Soal Potensi Balik ke Barcelona, Ini Kata Iniesta

Sumberbola – Andres Iniesta memutuskan untuk meninggalkan Barcelona pada akhir musim lalu, dan dia memilih untuk melanjutkan petualangannya ke Jepang dengan memperkuat Vissel Kobe.
Selepas meninggalkan Barcelona, Iniesta sempat mengakui bahwa di masa depan dia ingin kembali ke Camp Nou lagi. Meski demikian, Iniesta mengaku masih belum memutuskan peran apa yang akan dia dapat saat kembali ke Barcelona lagi.
“Akankah saya kembali ke Barcelona? Tidak ada yang tahu apa yang bisa terjadi di masa depan, tetapi itu hanya akan terjadi jika saya memenuhi syarat untuk melakukan peran lebih dari yang lain,” kata Iniesta.
Lebih lanjut, Iniesta juga mengungkapkan kehidupannya selama berada di Jepang. Menurutnya, kehidupan di Jepang terasa menyenangkan.
“Bagaimana hidup di Jepang? Saya sangat ingin datang ke sini bahwa semuanya tampak positif bagi saya, ini adalah pengalaman baru dengan rasa tenang.
“Ketika kami berjalan-jalan, kami tidak dikelilingi oleh orang-orang dan banyak orang yang malu ketika mendekati Anda, itu memberi Anda lebih banyak kebebasan.
Sebagai informasi, Iniesta telah memperkuat Barcelona selama 16 tahun. Dia juga membantu Barcelona untuk memenangkan sebanyak 32 trofi selama kariernya di Camp Nou.

Hakimi Kecewa Real Madrid Terlalu Cepat Pecat Lopetegui

Sumberbola – Bek Real Madrid yang saat ini menjalani musim pinjaman di Borussia Dortmund, Achraf Hakimi mengaku kecewa, lantaran Los Blancos terlalu cepat memecat Julen Lopetegui dari kursi manajer di Santiago Bernabeu.
Penerus Zinedine Zidane itu hanya bertahan selama empat setengah bulan di Santiago Bernabeu, sebelum dipecat pada pekan lalu usai Real Madrid dipermalukan rival El Clasico, Barcelona dengan skor telak 5-1 di Camp Nou.
Itu berarti Lopetegui hanya bertanggung jawab untuk 14 pertandingan Real Madrid. Lantas, Hakimi mengkritik keputusan untuk menyingkirkan mantan pelatih tim nasional Spanyol tersebut, karena dia merasa bahwa seorang pelatih membutuhkan lebih banyak waktu untuk menerapkan metodenya.
“Saya terkejut dengan betapa sedikitnya waktu yang diberikan kepadanya,” kata pemain internasional Maroko itu dalam sebuah wawancara dengan Radio Marca.
“Dia tidak punya waktu untuk menunjukkan potensinya sebagai pelatih. Sebuah tim seperti Real Madrid akan mengubah dinamikanya sekarang, dan mereka akan keluar dari kesulitan yang mereka hadapi,” imbuhnya.
Los Blancos belum menunjuk penerus jangka panjang Lopetegui. Kini mantan pelatih tim B Real Madrid, Santiago Solari ditunjuk untuk menjadi pelatih sementara di tim utama.
Solari yang juga adalah mantan pemain Real Madrid, berhasil memimpin klub meraih dua kemenangan dari dua pertandingan sejauh ini, yakni saat melawan tim divisi ketiga, Melilla di Copa del Rey dan Real Valladolid di La Liga pada akhir pekan kemarin.

Bukan Real Madrid, Van der Vaart Klaim Tahun Terbaiknya sebagai Pesepakbola Terjadi di Klub Ini

Sumberbola – Rafael van der Vaart mengakui jika tahun-tahun terbaiknya sebagai pemain sepak bola adalah saat dia bermain untuk klub Liga Premier Inggris, Tottenham Hotspur selama dua tahun.
Playmaker asal Belanda itu memutuskan untuk pensiun dari sepak bola pada hari Senin (5/11), setelah menikmati karier yang gemilang bersama beberapa klub terbesar di Eropa, termasuk Ajax dan Real Madrid.
Van der Vaart hanya mencatat 77 penampilan untuk Spurs dari tahun 2010 hingga 2012, dengan mencetak 28 gol selama berada di White Hart Lane. Dan, meski menikmati karier awal penuh trofi di Ajax dan bermain dengan beberapa superstar dunia di Santiago Bernabeu, namun Van der Vaart percaya bahwa puncak kariernya adalah saat berada di London utara.
“Itu adalah dua tahun terbaik saya, dua tahun penampilan terbaik, banyak kompetisi,” kata Van der Vaart kepada NOS tentang waktunya di Spurs.
“Saya bermain dalam tim hebat dengan pemain fantastis, seperti (Gareth) Bale dan (Luka) Modric, yang mana ini sangat menyenangkan,” imbuhnya.
Lebih lanjut, Van der Vaart mengakui jika dia memiliki kenangan pahit saat bermain untuk timnas Belanda, meski berhasil mencatat 109 caps. Hal ini lantaran dia tidak bisa memberikan piala untuk penggemar Die Oranje, meski membawa Belanda lolos ke final Piala Dunia 2010.
“Itu adalah puncak dalam karier saya, tetapi pada saat yang sama, itu adalah titik rendah,” tambah Van der Vaart.
“Para penggemar itu benar-benar fantastis, dan itu bukan lelucon. Mereka ada di sana untuk begitu banyak turnamen besar, Anda tidak akan melupakan itu. Tidak memberi orang-orang itu Piala Dunia adalah satu-satunya noda dalam karier internasional saya,” pungkasnya.