Pepe Resmi Berseragam Porto

Pepe Resmi Berseragam Porto– Mantan bek anyar Real Madrid, Pepe akhirnya resmi bergabung dengan Porto di bursa transfer Januari ini. Diketahui Pepe diputus kontraknya oleh Besiktas di Desember kemarin karena klub mengalami masalah finansial.

Lewat laman resmi mereka, Porto menyatakan bahwa Pepe sepakat menandatangani kontrak selama dua setengah musim alias hingga 30 Juni 2021 mendatang.

Ini merupakan periode kedua Pepe memperkuat Porto. Sebelumnya pemain kelahiran Brasil itu sempat membela Porto pada rentang 2004 hingga 2007 silam.

Kontrak Pepe bersama Besiktas sejatinya baru akan berakhir pada Juni 2019 mendatang. Namun klub Turki itu tak punya pilihan selain memutus kontrak bek 35 tahun tersebut pada pertengahan Desember kemarin karena krisis finansial.

Status bebas agen membuat Pepe langsung menjadi buruan beberapa klub elit Eropa. Eks palang pintu Real Madrid itu memiliki opsi bermain di Premier League bersama Arsenal atau Wolverhampton.

Selain itu, Pepe juga sempat dikaitkan dengan klub Ligue 1, AS Monaco. Pepe pun diklaim lebih tertarik dengan proyek yang ditawarkan oleh Thierry Henry di Monaco. Sebab, Pepe dijanjikan bermain reguler.

Namun Pepe akhirnya mengambil keputusan untuk pulang ke Portugal dan kembali bermain untuk Porto. Pepe pun mengaku antusias dengan kepulangan dirinya ke Estadio do Dragao.

“Saya antusias. Bagi saya merupakan sebuah kehormatan bisa kembali mengenakan seragam Porto. Klub ini memberikan saya segalanya di dunia sepak bola,” ujar Pepe.

“Saya akan melakukan yang terbaik seperti yang sudah saya lakukan untuk klub ini, dan saya akan menghormati jersey yang sangat berarti ini,” tandasnya.

Nuno Espirito Santo: Mourinho Ajari Saya Jadi Pemenang

Football5star.com, Indonesia – Kepergian Jose Mourinho dari Manchester United membuat koleganya, Nuno Espirito Santo, sedih. Pelatih Wolverhampton ini mengaku sangat kehilangan sosok panutan di Premier League.
Untuk diketahui, Santo pernah bahu membahu bersama Mourinho di FC Porto. Ia adalah kiper Porto yang juga berperan dalam kesuksesan meraih Liga Champions pertama untuk raksasa Portugal itu pada musim 2002-2003.
theleaguepaper.com
Pengalaman itu pula yang masih sangat melekat di ingatan Santo. Ia mengatakan bahwa pelatih 55 tahun itu lah yang mengajarkan dirinya untuk menjadi seorang pemenang.
“Ketika Anda berbicara soal Jose Mourinho, secara personal dia memiliki dampak besar dalam hidup saya. Karena saya ingat dengan skuat POrto musim 2002-2003 dan 2003-2004 itu akan terkenang selamanya,” ujar Santo kepada Sky Sports, Kamis (20/12/2018).
“Ketika Anda punya seseorang yang mengatur, melatih dan Anda mengikutinya dan Anda percaya bisa melakukan segalanya karena Anda percaya pada pikiran yang menuntun Anda. Itulah dampak kehadiran Mourinho dalam hidup saya, dia selalu mengajarkan kami bagaimana menjadi pemenang selamanya,” ia menambahkan.
Lebih lanjut, pelatih yang sukses membawa Wolverhampton promosi ke Premier League musim ini berharap koleganya itu selalu diberikan yang terbaik dalam kariernya.
“Sebagai mantan pemain dan seorang teman saya, dari lubuk hati saya yang paling dalam, saya berharap yang terbaik untuk Mourinho,” tutupnya.

More News on Liga Inggris

Xavi Kagumi Permainan Chelsea di Bawah Asuhan Sarri

Sane Geleng-Geleng Lihat Ketajaman Sterling

Pelatih Wolverhampton Senang Usai Dikalahkan Liverpool

The post Nuno Espirito Santo: Mourinho Ajari Saya Jadi Pemenang appeared first on Football5star Berita Bola.

Mourinho dan Sindrom Musim Ketiga yang Berakhir Pemecatan

Football5star.com, Indonesia – Fans mana yang tidak berbunga-bunga hatinya jika mendengar tim kesayangannya akan dilatih oleh seorang Jose Mourinho. Dia sudah membuktikan tidak ada klub yang tidak akan juara jika sudah ia tangani. Namun, selayaknya manusia biasa, Mourinho juga bukan pelatih yang sempurna.
Selama karier melatihnya, Mourinho sudah mempersembahkan dua Liga Champions, delapan gelar liga, serta 15 trofi Piala Liga. Tapi semua piala prestisius itu diraih pelatih yang akrab disapa Mou itu di dua musim perdananya menjadi nahkoda. Ya, selama ini Mourinho dikenal mempunyai satu penyakit akut bernama sindrom musim ketiga.
Keberadaan Mourinho di Chelsea dan Real Madrid selalu berakhir pada ketok palu pemilik klub, sekali pun di musim sebelumnya dia berhasil mempersembahkan gelar. Tentu masa indahnya di Inter dan Porto menjadi pengecualian karena ia lebih dulu memutuskan hengkang usai meraih treble winner.
todofutebol.com
Kini Mourinho seolah ingin mengulang cerita serupa. Pasalnya Manchester United yang ia latih sekarang tak ubahnya Chelsea dan Madrid yang ia tangani di tahun ketiganya.
Hasil buruk menjadi alasan utama. Setan Merah dibekap West Ham United 1-3 di London Stadium. Kekalahan ini kian mengikis kepercayaan fans United yang tiga hari sebelumnya sudah harus menanggung malu usai dipecundangi Derby County di ajang Carabao Cup.

Persentase Kemenangan yang Terus Merosot
Pada faktanya, performa buruk Setan Merah musim ini sebenarnya sudah lazim terjadi dalam karier manajerial Mourinho. Menurut data yang dikutip Football5star.com dari BBC, persentase kemenangan The Special One selalu merosot tajam di musim ketiga.
Musim ketiganya bersama Porto, Mourinho hanya meraup persentase sebesar 73,5 persen kemenangan. Angka ini menurun dari musim sebelumnya dengan 79,4 persen. Hal serupa juga terjadi pada era pertamanya membangun Chelsea.
Angka statis 76,3 persen yang didapat pada dua musim awal langsung jeblok ketika memasuk musim ketiga. Ia hanya mengantongi 63,2 persen kemenangan. Setali tiga uang dengan Chelsea, raksasa Spanyol, Real Madrid, juga merasakan sindrom pelatih 55 tahun itu.
mirror.co.uk
Sukses meraih 100 poin dan 84, 2 persentase kemenangan di musim keduanya, Mourinho hanya mampu membawa Los Blancos jadi penghuni kedua LaLiga dan tertinggal 13 angka dari Barcelona sebegai juara musim 2012-2013. Persentase kemenangannya pun jeblok ke angka 68,4 persen.
Merajalela ke Italia dan Spanyol pada akhirnya membawa Mourinho “pulang” ke London pada Juli 2013. Sukses meraih trofi Premier League di musim kedua, bulan madu pria kelahiran Setubal di musim ketiga lagi-lagi harus ditentukan oleh “tangan besi” pemilik klub, Roman Abramovich.
Mourinho hanya mengoleksi 25 persen kemenangan dari 16 pertandingan pada musim 2015-2016. Ia pun harus rela dipecat Chelsea, lagi-lagi sebelum pergantian tahun.
Jika dilihat dari performa MU musim ini, Mourinho seolah ingin mencetak hat-trick nasib dipecat sebelum tahun baru. Bagaimana tidak, ia baru mengoleksi tiga kemenangan dari tujuh laga Liga Inggris dan menjadikan ini sebagai start terburuk Setan Merah di era Premier League.

Mourinho dan Masalah dengan Pemain
Menariknya, pemecatan yang dialami pelatih yang beristrikan wanita asal Angola itu diwarnai satu kasus yang sama. Ia selalu terlibat konflik dengan pemain dan manajemen tim jelang dipecat. Bersama Chelsea edisi pertama, ia terlibat perang dingin dengan Abramovich yang enggan mengeluarkan banyak uang di jendela transfer.
Apa yang kemudian dilakukan Mourinho di Madrid justru lebih gila lagi. Ia memangkas waktu bermain ikon klub, Iker Casillas, secara drastis. Bahkan keputusan ini berdampak masif karena melibatkan pemain lain seperti Sergio Ramos, Pepe, dan Raphael Varane.
Setelah itu giliran skuat Chelsea yang dibuat gaduh. Seakan tak puas hanya bermasalah dengan Abramovich di era pertamanya, Mourinho menyalakan api permusuhan pada pemain dan staf medis.
citizentv.com
Tidak main-main, Eden Hazard menjadi sasaran kejengkelan Mou kali itu. Sang pemain juga tidak menampik pertengkaran keduanya. Bahkan saat Chelsea bertemu MU musim lalu, Hazard masih enggan menjabat tangan mantan pelatihnya itu.
Hazard bukan satu-satunya orang di tubuh The Blues yang geram dengan Mourinho. Staff medis tim, Eva Carneiro, juga menjadi musuh abadi pelatih yang kerap melontarkan komentar kontroversial ini.
Usai mengobati Hazard yang terjatuh di lapangan. Eva justru dihadang kritik oleh Mourinho di pinggir lapangan. Bola panas perseteruan keduanya membuat sang manajer membekukan status Eva di tim selama beberapa pekan. Pada akhirnya, wanita asal Portugal itu pun meninggalkan Stamford Bridge.

Mulai dari Ed Woodward Hingga Paul Pogba
Pelatih bernama lengkap Jose Mario dos Santos Felix Mourinho kemudian memulai musim 2018-2019 dengan gusar. Ia menyerang manajemen United yang tidak mampu mendatangkan pemain yang diinginkan pada musim panas.
Belum selesai masalahnya dengan manajemen, dalam hal ini Chief Executive, Ed Woodward, Mourinho kembali menyalakan api permusuhan dengan Pogba. Sempat mengatakan tidak akan memercayakan ban kapten pada sang gelandang, ia kemudian menyambut bintangnya itu dengan dingin di sesi latihan jelang lawan West Ham.
zimbio.com
Puncak permasalahan keduanya pun terjadi di laga kontra West Ham. Kekalahan 3-1 United kian terasa pedas saat Mourinho menarik keluar Pogba. Gelandang asal Prancis itu memang menjabat tangan sang manajer di pinggir lapangan, tapi terlihat jelas raut kekecewaan dan amarah yang terus menumpuk dalam benaknya.
Berdasarkan masalah yang terus diulang dan “hukum” sepak bola yang selalu mengulang sejarah, bukan tidak mungkin sindrom musim ketiga Mourinho berlanjut pada musim ini bersama Setan Merah. Apalagi hanya di Old Trafford lah “Si Mulut Besar” gagal mempersembahkan gelar liga domestik.

More News on Liga Inggris

GALERI: Gol Spektakuler Sturridge Pupus Asa Chelsea

Deschamps: Pogba Tak Bisa Kerja Sendirian

Gol Terbaik Aguero di Mata Legenda Manchester City

 
The post Mourinho dan Sindrom Musim Ketiga yang Berakhir Pemecatan appeared first on Football5star Berita Bola.