Nuno Espirito Santo: Mourinho Ajari Saya Jadi Pemenang

Football5star.com, Indonesia – Kepergian Jose Mourinho dari Manchester United membuat koleganya, Nuno Espirito Santo, sedih. Pelatih Wolverhampton ini mengaku sangat kehilangan sosok panutan di Premier League.
Untuk diketahui, Santo pernah bahu membahu bersama Mourinho di FC Porto. Ia adalah kiper Porto yang juga berperan dalam kesuksesan meraih Liga Champions pertama untuk raksasa Portugal itu pada musim 2002-2003.
theleaguepaper.com
Pengalaman itu pula yang masih sangat melekat di ingatan Santo. Ia mengatakan bahwa pelatih 55 tahun itu lah yang mengajarkan dirinya untuk menjadi seorang pemenang.
“Ketika Anda berbicara soal Jose Mourinho, secara personal dia memiliki dampak besar dalam hidup saya. Karena saya ingat dengan skuat POrto musim 2002-2003 dan 2003-2004 itu akan terkenang selamanya,” ujar Santo kepada Sky Sports, Kamis (20/12/2018).
“Ketika Anda punya seseorang yang mengatur, melatih dan Anda mengikutinya dan Anda percaya bisa melakukan segalanya karena Anda percaya pada pikiran yang menuntun Anda. Itulah dampak kehadiran Mourinho dalam hidup saya, dia selalu mengajarkan kami bagaimana menjadi pemenang selamanya,” ia menambahkan.
Lebih lanjut, pelatih yang sukses membawa Wolverhampton promosi ke Premier League musim ini berharap koleganya itu selalu diberikan yang terbaik dalam kariernya.
“Sebagai mantan pemain dan seorang teman saya, dari lubuk hati saya yang paling dalam, saya berharap yang terbaik untuk Mourinho,” tutupnya.

More News on Liga Inggris

Xavi Kagumi Permainan Chelsea di Bawah Asuhan Sarri

Sane Geleng-Geleng Lihat Ketajaman Sterling

Pelatih Wolverhampton Senang Usai Dikalahkan Liverpool

The post Nuno Espirito Santo: Mourinho Ajari Saya Jadi Pemenang appeared first on Football5star Berita Bola.

Senjata Makan Tuan Bagi Mourinho

Football5star.com, Indonesia – Peribahasa senjata makan tuan tepat untuk menggambarkan apa yang baru dialami manajer Manchester United, Jose Mourinho.
Dua pertandingan terakhir berujung kekecewaan bagi Man. United. Padahal laskar Mourinho tampil di Old Trafford.
Man. United imbang 1-1 saat menjamu Wolverhampton Wanderers pada pekan keenam Premier League, Sabtu (22/9/2018).
Hanya tiga hari berselang, Setan Merah kalah dari Derby County lewat drama adu penalti di babak ketiga Piala Liga Inggris.
Ironisnya, manajer dua klub tadi adalah bekas anak didik Mourinho. Mereka adalah Nuno Espirito Santo (Wolves) dan Frank Lampard (Derby).
Ketika menjadi pemain profesional, Santo lebih banyak menghabiskan waktunya di kursi cadangan dibanding lapangan hijau. Itu justru menjadi pengalaman berharga baginya.
“Saya mengamati laga dari tempat terbaik. Saya melihat ruang, jarang dan pengambilan keputusan para pemain dengan lebih baik,” tutur dia.
Santo tidak pernah dimainkan Mourinho saat membela FC Porto pada 2002-2004. Namun, dia tetap menaruh respek yang besar kepada mantan pelatihnya tersebut.
Nuno Espirito Santo pernah jadi anak asuh Jose Mourinho di FC Porto pada 2002-2004. Foto: The Football League Paper
“Mourinho membawa Porto menjuarai Liga Champions (2003-04) meski tidak punya pemain-pemain kelas dunia,” kenangnya. “Saya sangat memperhatikan saat dia berbicara. Dia berperan besar dalam karier saya.”
Nasib Lampard jauh lebih beruntung ketimbang Santo. Dia merupakan salah satu pemain kesayangan Mourinho selama menukangi Chelsea.
Lampard punya pengalaman yang tidak terlupakan soal Mourinho. Itu terjadi ketika The Special One tiba di Stamford Bridge setelah ditunjuk sebagai manajer The Blues pada 2004.
“Dia mengatakan bahwa saya adalah pemain terbaik dunia,” kata Lampard. Uniknya, percakapan itu terjadi ketika mantan kapten Chelsea tersebut sedang mandi di ruang ganti.
Frank Lampard pada era pertama kepemimpinan Jose Mourinho di kursi manajer Chelsea. Foto: Premier League
Saat itu, Lampard belum menjadi pemain yang punya peran vital bagi Chelsea. Namun, di bawah asuhan Mourinho, dia berkembang pesat hingga menjadi legenda klub asal London tersebut.
Lihat saja pencapaian pria berumur 40 tahun itu. Hingga kini, dia tercatat sebagai pengoleksi penampilan terbanyak keempat (648 gol) dan tersubur (211 gol) dalam sejarah The Blues.
Selain itu, Lampard masuk daftar nomine peraih penghargaan Pemain Terbaik FIFA 2005 bersama Ronaldinho Gaucho dan Samuel Eto’o. Dia finis di posisi kedua.
Hubungan baik antara keduanya tidak sebatas di lapangan hijau, tetapi dalam kehidupan pribadi. “Kami baru saja kembali berkomunikasi melalui telepon, tetapi itu terkait keluarga. Kami hanya membahas anak perempuan saya, bukan pertandingan,” ungkap Lampard sebelum bertandang ke Old Trafford.
Jose Mourinho berhadapan dengan Frank Lampard saat Manchester United vs Derby County. Foto: The Independent
Sebelum bertemu beberapa waktu lalu, Mourinho sempat melayangkan pujian kepada Santo dan Lampard. Dia tentu senang dua mantan muridnya mengikuti jejaknya sebagai manajer.
Di sisi lain, apa yang dia ajarkan menjadi bumberang bagi dirinya sendiri setelah Man. United ditahan Wolves dan kalah dari Derby.
Ini juga menjadi momentum bagi Mourinho untuk mengevaluasi diri. Selama terjun ke dunia pelatih, dia dikenal sebagai manajer dengan pendekatan taktik yang pragmatis.
Berbeda dengan Sir Alex Ferguson yang menangani Setan Merah selama lebih dari dua dekade. Seiring berjalannya waktu, pria asal Skotlandia itu selalu berupaya beradaptasi.
Padahal Ferguson pernah kehilangan beberapa pemain bintang, seperti David Beckham dan Cristiano Ronaldo. Kekuatan klub-klub lain pun terus meningkat, tetapi dia terus meraih prestasi secara konsisten.
Pesan dari Paul Pogba, salah satu pemain andalan Man. United, sejatinya bisa menjadi bahan renungan bagi The Special One.
“Saat bermain di kandang, Anda seharusnya menyerang. Ini adalah Old Trafford. Kami di sini untuk menyerang,” ucapnya, setelah laga melawan Wolves usai.
The post Senjata Makan Tuan Bagi Mourinho appeared first on Football5star Berita Bola.