Ini Cara Ancelotti Buat Cristiano Ronaldo Lebih Tajam Lagi

Sumberbola – Cristiano Ronaldo merupakan salah satu penyerang yang menjadi andalan Carlo Ancelotti saat menjadi pelatih Real Madrid.
Sebelum datang ke Real Madrid, Ronaldo menjadi pemain sayap saat berada di Manchester United. Namun, superstar asal Portugal itu menjadi pemain yang lebih baik lagi saat berada di Santiago Bernabeu.
Lantas, mantan pemain Real Madrid, Paul Clement, bercerita bahwa perubahan dari pemain sayap ke penyerang tidak terjadi dalam semalam.
“Carlo punya gagasan bahwa Cristiano akan bermain sebagai penyerang, baik dengan (Karim) Benzema atau Benzema akan masuk ke dalam permainan,” kata Paul Clement kepada Stadium Astro.
“Dia ingin lebih membebaskannya sehingga dia bisa menjadi pencetak gol lebih banyak dan lebih sedikit tanggung jawab karena ketika Anda bermain lebar Anda harus melacak kembali.
“Dia memulainya seperti itu di pra-musim, saya tidak yakin apakah itu benar-benar masuk ke musim tetapi tentu bagian awal ketika kita berada di sana, tetapi dia berkata kepada Carlo: ‘Saya tidak nyaman bermain dalam posisi itu karena punggungku mengarah ke gawang dan itu bukan kekuatanku ‘.
“Dia mengatakan: ‘Saya lebih suka masuk dari kiri, berlari ke arah bek dan menembak atau memberikan umpan silang’.
“Dan pertanda bagus dari manajemen Carlo adalah dia tidak mengatakan ‘Anda akan bermain sebagai striker dan Anda akan tampil bagus di sana, Cristiano Anda harus merasa nyaman’.
“Jadi dia memainkannya di kiri dan kemudian yang dia lakukan adalah mengatur tim untuk memungkinkan Ronaldo menggunakan keterampilan ofensifnya sehingga dia tidak perlu melacak kembali di sisi kiri.
“Kami bermain 4-3-3 dan di sisi kiri lini tengah ia bermain dengan Angel di Maria, yang bisa berlari, berlari dan berlari.
“Kami tahu bahwa jika Cristiano maju, Angel akan memiliki kemampuan untuk memberikan perlindungan dan membantu Marcelo, yang berada di bek kiri.
“Kami tahu apa yang dia sukai dan apa yang dia kuasai dan Carlo memberinya kesempatan untuk pergi dan melakukan itu,” tutupnya.

Manajer Sepak Bola Tersukses Dalam Sejarah Liga Champions

Gilabola.com – Siapa saja manajer sepakbola yang paling sering mengangkat trofi Liga Champions? Berikut daftar lengkapnya.
Tottenham Hotspur dan Liverpool akan berlaga di final Liga Champions, Mauricio Pochettino dan Jurgen Klopp akan bersaing untuk membuktikan siapa diantara keduanya yang terbaik.
Kemenangan Real Madrid di final atas Juventus di tahun 2017 dan mengalahkan Liverpool di tahun 2018 sukses memberikan prestasi fenomenal bagi Zinedine Zidane dengan mengoleksi dua trofi UCL hanya dalam dua musim!
Ini membuat Zidane masuk dalam daftar pelatih-pelatih tersukses dalam sejarah Liga Champions, bersama seniornya Carlo Ancelotti hingga eks manajer Barcelona Pep Guardiola.

Berita Terkait

Jurgen Klopp: Bohong Kalau Guardiola Tak Ingin Juara Liga Champions
Antonio Conte Lebih Bagus Dari Jose Mourinho
Arsene Wenger Pecundangi Zinedine Zidane Dipuji Netizen

Ada banyak manajer yang telah meraih kesuksesan di Liga Champions, dan kini kami sajikan enam di antara para manajer bersejarah tersebut.
1. Carlo Ancelotti
Manajer Bayern Munchen ini sejauh ini sudah memenangkan tiga kali Liga Champions. Manajer Italia itu berhasil meraih ketiga gelar juara dengan dua klub berbeda, yakni AC Milan dan Real Madrid.
Berita Liga Champions – Potret keakraban Jurgen Klopp dan Carlo Ancelotti.
Carlo Ancelotti, yang menggantikan Fatih Terim di AC Milan pada 6 November 2001, mempersembahkan trofi Liga Champions pertamanya di musim keduanya di AC Milan dengan mengorbankan Juventus lewat adu penalti dengan skor 3-2.
Trofi Liga Champions kedua Ancelotti kembali diraih bersama AC Milan pada musim 2006-2007, saat mereka membalas kekalahan dramatis untuk memetik kemenangan 2-1 atas Liverpool.
Ancelotti kemudian merasakan gelar ketiganya dalam karir kepelatihannya dengan membawa Real Madrid meraih La Decima di Estadion da Luz, Lisbon, saat mereka mengalahkan rival sekota Atletico Madrid dengan skor 4-1.
2. Bob Paisley
Bob Paisley merupakan manajer lain yang meraih tiga gelar Liga Champions selama karir kepelatihannya, dengan semuanya didapatkannya saat melatih Liverpool.
Bob Paisley
Paisley yang menjabat sebagai pelatih utama Liverpool pada tahun 1974, sukses menyabet gelar Liga Champions pertama untuk Liverpool dua musim setelahnya dengan mengorbankan tim Jerman Borussia Monchengladbach dengan skor 3-1 di Stadion Olimpico, Roma.
Bob Paisley kembali mengantarkan Liverpool meraih back to back gelar juara dengan mengalahkan klub asal Belgia, Club Brugge, dengan skor 1-0 di final di Stadion Wembley, London.
Dan manajer legendaris Anfield itu akhirnya mempersembahkan hattrick trofi untuk The Reds saat di final mereka mengalahkan raksasa Spanyol Real Madrid 1-0di Stadion Parc des Princes, Paris, pada tahun 1981.
3. Pep Guardiola
Manajer asal Catalan ini didatangkan oleh Bayern dan kemudian Manchester City adalah karena kesuksesannya berbicara di Eropa selama melatih Barcelona.
Pep Guardiola
Pep Guardiola menggantikan Frank Rijkaard sebagai manajer Blaugrana pad bulan Mei 2008, dengan ia sukses mempersembahkan trofi Liga Champions di musim perdananya saat menang 2-0 atas Manchester United di Stadion Olimpico, Roma, pada tahun 2009.
Tak butuh waktu lama Pep kembali mempersembahkan trofi Liga Champions di musim 2010-2011 dengan mengorbankan lawan yang sama, Manchester United dengan skor 3-1 pada tahun 2011.
4. Jose Mourinho
Jose Mourinho pertama kali mencuat setelah sukses mengantarkan tim kejutan FC Porto menjadi juara Liga Champions di musim 2003-2004 saat mereka menghancurkan AS Monaco dengan skor telak 3-0 di partai final pada tahun 2004.
Jose Mario dos Santos Mourinho Felix, atau yang lebih dikenal dengan nama Jose Mourinho merupakan pelatih Manchester United. Termasuk salah satu pelatih terbaik dalam sejarah sepak bola dunia yang juga pernah latih Chelsea dan Real Madrid.
Dan Mou kemudian meraih gelar keduanya sebagai manajer berhasil membawa Nerazzurri meraih trebel bersejarah dengan mengalahkan Bayern Munchen dengan skor 2-0 di final berkat dua gol Diego Millito di Stadion Santiago Bernabeu, Spanyol pada tahun 2010.
5. Miguel Munoz
Miquel Munoz merupakan aktor dibalik kesuksesan Real Madrid baik sebagai pemain maupun pelatih. Ia merupakan salah satu sosok yang pernah menjadi manajer Los Blancos begitu lama dengan 14 tahun, dari tahun 1960 hingga 1974.
Miguel Munoz
Munoz tiga kali juara bersama Real Madrid sebagai pemain (1955/56, 1956/57, 1957/58), dan dua kali sebagai pelatih (1959/60 dan 1965/66), selain dalam karirnya sebagai pemain ia juga bisa mempersembahkan 9 trofi La Liga untuk Los Blancos.
6. Zinedine Zidane
Zidane menunjukkan kualitasnya tak hanya sebagai pemain kelas dunia, tapi juga sebagai pelatih terbaik dunia. Hanya butuh satu setengah musim, Zizou sukses mempersembahkan dua trofi Liga Champions untuk Real Madrid.
Berita Liga Champions – Zinedine Zidane saat masih membesut Real Madrid.
Setelah menggantikan Rafael Benitez pada pertengahan musim 2016-2017, Zidane langsung membawa Madrid finish di urutan kedua La Liga dengan hanya satu poin di bawah Barcelona dan menjuarai Liga Champions atas Atletico Madrid.
Zidane kembali menunjukkan magisnya dengan membawa Madrid menjadi juara Eropa kedua beruntun setelah mengalahkan Juventus di Cardiff pada tahun 2017 dan di tahun 2018 mengalahkan Liverpool di Kiev.
Sumber: Manajer Sepak Bola Tersukses Dalam Sejarah Liga Champions

Ancelotti Sebut Kembalinya Zidane ke Madrid di Tengah Musim adalah Tepat

Liga Spanyol – Pelatih Napoli, Carlo Ancelotti, menyebut kembalinya Zinedine Zidane ke Real Madrid pada pertengahan musim ini adalah hal yang tepat. Sebab, juru taktik asal Prancis itu memiliki kesempatan untuk mengevaluasi kekurangan Los Blancos, dan bersiap tampil lebih baik di musim selanjutnya.
Setelah 10 bulan meninggalkan Real Madrid, Zidane kembali ditunjuk sebagai pengganti Santiago Solari pada awal bulan ini. Keputusan itu dibuat menyusul tersingkirnya Los Blancos dari ajang Copa del Rey sekaligus Liga Champions musim ini.
Meski secara perhitungan masih mungkin memenangi ajang La Liga, namun peluang Real Madrid sangat kecil. Pasalnya, Los Blancos tertinggal 12 poin dari Barcelona, yang saat ini nyaman singgah di puncak klasemen sementara liga. Sehingga, kembalinya Zidane ke Santiago Bernabeu dinilai kurang tepat.
Meski demikian, Ancelotti yakin jika kembalinya Zidane ke Real Madrid adalah hal yang tepat. Sebab, pria berusia 46 tahun itu merupakan satu-satunya pelatih yang cocok dengan klub asal ibukota Spanyol tersebut.
“Saya akan mengatakan bahwa Zidane dan Real Madrid adalah pasangan yang sempurna. Mereka ditakdirkan bersama, dan itulah mengapa akan berhasil lagi,” kata Ancelotti kepada France Football.
“Zidane telah kembali sembari memahami apa yang sedang dia lakukan. Saya tidak melihat adanya ancaman pada dirinya. Tidak ada yang akan menyalahkan dia atas hasil-hasil sampai akhir musim ini. Dia akan tenang selama beberapa bulan dan penting untuk memiliki kondisi seperti ini.
“Tidak menunda keputusan sampai Juni untuk memanggilnya ke Real Madrid itu adalah ide yang bagus. Sebab, dia sekarang memiliki waktu yang tepat untuk melakukan observasi, menganalisis, dan bersiap untuk musim depan,” pungkasnya.

Ancelotti Klaim Dirinya Keluar dari Madrid karena Gareth Bale

Sumberbola – Pelatih Napoli, Carlo Ancelotti telah mengungkapkan bagaimana Gareth Bale menyebabkan dirinya meninggalkan Real Madrid. Juru taktik asal Italia itu dibebaskan dari pekerjaan manajerial Los Blancos pada akhir musim keduanya di Santiago Bernabeu.
Ancelotti membimbing Real Madrid memenangkan Liga Champions dan Copa del Rey pada musim pertamanya sebagai manajer di Madrid. Salah satu pemain yang bersinar di timnya adalah Gareth Bale, yang ditandatangani Los Blancos dengan memecahkan rekor transfer klub dari Tottenham Hotspur pada 2013.
Namun, kini Ancelotti secara sensasional mengungkapkan bahwa pemain asal Wales itu memainkan peran utama dalam kepergiannya dari ibukota Spanyol.
“Altruisme dalam sebuah skuat adalah penting, karena jika ada sesuatu yang membuat saya marah, itu adalah orang-orang yang egois dalam situasi pertandingan,” kata Ancelotti, dilansir dari Express.co.uk.
“Saat-saat ketika seorang pemain benar-benar harus mengoper bola dan dia tidak melakukannya, saya membayar ini dalam karier saya sendiri. Alasan pertikaian dengan Florentino Perez meledak di Madrid adalah saya menggantikan Bale saat melawan Valencia.
“Bale seharusnya memberikan bola kepada Karim Benzema, yang akan mencetak gol di depan gawang yang terbuka, tetapi dia malah mengambil tembakan. Saya menarik Bale keluar dan kekacauan merebak,” imbuhnya.
Lebih lanjut, Ancelotti mengatakan: “Mungkin altruisme yang berlebihan juga perlu dibatasi pada seorang striker, karena dia membutuhkan sedikit egoisme, tetapi itu bukan yang utama. Tampaknya buruk untuk mengatakan ini, tetapi jika pemain depan Napoli sedikit lebih egois, kita mungkin mendapatkan beberapa keuntungan dari itu.”

Solskjaer Tetap Lebih Baik dari Ancelotti dan Guardiola

Football5Star.com, Indonesia – Ole Gunnar Solskjaer gagal menorehkan rekor baru di Premier League. Dia urung menjadi manajer pertama yang meraih hasil sempurna dalam tujuh laga awal bersama sebuah klub di kasta tertinggi kompetisi sepak bola Inggris itu.

Meskipun demikian, hasil imbang 2-2 yang dituai Manchester United saat menjamu Burnley, Rabu (30/1/2019) dini hari, tetap menahbiskan Solskjaer sebagai manajer dengan start terbaik bersama sebuah klub di Premier League. Capaiannya dalam tujuh laga awal lebih baik dari Carlo Ancelotti dan Pep Guardiola.

First 7 PL Matches in charge of a club:Solskjaer: W-W-W-W-W-W-DAncelotti: W-W-W-W-W-W-LGuardiola: W-W-W-W-W-W-L#MNUBUR— Gracenote Live (@GracenoteLive) January 29, 2019

Solskjaer menjadi manajer pertama yang tak mengalami kekalahan dalam tujuh laga awal di Premier League bersama sebuah klub. Sebelum ditahan Burnley, Manchester United berhasil menang atas Cardiff City, Huddersfield Town, Burnemouth, Newcastle United, Tottenham Hotspur, dan Brighton & Hove Albion.

Itu lebih baik dari Ancelotti dan Guardiola. Keduanya sama-sama mengalami kekalahan pada laga ke-7 setelah meraup enam kemenangan beruntun. Ancelotti yang menangani Chelsea menelan kekalahan 1-3 di kandang Wigan Athletic. Sementara itu, Guardiola bersama Manchester City takluk 0-2 di kandang Tottenham Hotspur.

Capaian Solskjaer bersama Manchester United pada musim ini sangat kontras dengan saat dia menangani Cardiff City. Pada 2014, dia hanya sekali menang, dua kali imbang, dan empat kali kalah dalam tujuh laga awalnya bersama klub itu di Premier League.

Tangan dingin Solskjaer akan kembali diuji pada akhir pekan nanti. Minggu, (3/2/2019), Manchester United dijadwalkan bertanding di markas Leicester City.

More News on Liga Inggris

Syarat Mutlak Solskjaer agar Jadi Pelatih Tetap MU

Hodgson Telat Tahu Crystal Palace Dapatkan Batshuayi

Solskjaer Lega Martial Perpanjang Kontrak

The post Solskjaer Tetap Lebih Baik dari Ancelotti dan Guardiola appeared first on Football5star Berita Bola.

Napoli Tak Menyesal Disingkirkan Liverpool dari Liga Champions

Gilabola.com – Napoli ‘tidak menyesal’ harus keluar dari Liga Champions usai dikalahkan Liverpool, 0-1, Rabu (12/12) dinihari tadi. Demikian ungkap pelatih Partenopei, Carlo Ancelotti. “Kami telah berusaha lebih dari yang diharapkan,” ujar Carlo Ancelotti usai pertandingan antara Napoli kontra Liverpool di Anfield. Napoli seharusnya lolos ke babak 16 besar Liga Champions musim ini, jika mereka bisa menghindari […]
Gilabola.com