Manchester United Vs Manchester City: Adu Sihir Pogba dan Sterling

Football5star.com, Indonesia – Laga big match Liga Inggris antara Manchester United vs Manchester City akan terjadi di Old Trafford, Kamis (25/4/2019) dini hari WIB. Pertandingan ini jadi panggung adu sihir antara Paul Pogba dan Raheem Sterling.

Paul Pogba dan Raheem Sterling bisa dibilang adalah nyawa dari masing-masing tim. Peran keduanya begitu vital musim ini.

Pogba sudah menyumbangkan 16 gol dan 11 assist untuk Man United dalam 43 pertandingan di semua kompetisi. Sementara Sterling mencatatkan 23 gol dan 16 assist dalam 46 laga bersama Man City.

Getty Images

Partai ini juga dipastikan bakal berlangsung seru karena kedua tim sama-sama berambisi meraih poin penuh. United butuh poin untuk memperbesar peluang finis empat besar.

Sementara itu, bagi City yang hingga kini masih bersaing ketat dengan Liverpool di papan atas klasemen, kemenangan tentu bakal makin mendekatkan mereka ke tangga juara.

Musim lalu Pogba mencetak dua gol untuk membawa United mengalahkan City sekaligus menggagalkan sang tetangga mengunci gelar juara pada saat itu. Namun untuk pertemuan Manchester United vs Manchester City kali ini, Pogba menyadari situasinya berbeda.

“Saya tak mengatakan kali ini situasinya sama dengan tahun lalu, karena mereka juga membutuhkan kemenangan. Mereka sangat membutuhkannya dan kami pun juga demikian,” ujar Pogba dilansir Football5star.com dari Sky Sports.

“Kami berdua tengah mengejar sesuatu, mereka mengejar gelar juara dan kami mengejar Liga Champions dengan posisi empat atau tiga. Jadi laga ini akan sangat berat dan sangat penting,” sambungnya.

Jimat Man City

Getty Images

Sementara itu, Sterling adalah jimat andalan City musim ini. Setiap kali ia mencetak gol, The Cityzens selalu menang di Liga Inggris.

Dilansir dari Opta, The Cityzens selalu menang di 26 laga Premier League terakhir saat Sterling mencetak gol, dimana 12 laga di antaranya terjadi di musim ini.

Kini, tantangan Sterling berikutnya ada di duel Manchester United vs Manchester City. Mampukah ia mencetak gol dan membawa City berjaya? Atau justru Pogba yang keluar sebagai pemenang? Kita tunggu saja.

More News on Liga Inggris

James Milner: Pertama Kalinya Dukung Manchester United

Kalah dari Everton, Pogba Sebut Timnya Kurang Ajar

Pertahanan Menjadi Kunci Arsenal Raih Empat Besar

The post Manchester United Vs Manchester City: Adu Sihir Pogba dan Sterling appeared first on Football5star Berita Bola.

Rasio Kemenangan Pep Guardiola Lawan Man United Capai 60 Persen

Football5star.com, Indonesia – Pertandingan Manchester United vs Manchester City, Kamis (25/4/2019) dini hari WIB, menjadi catatan ke-11 Pep Guardiola melawan tim berjulukan Red Devils sepanjang perjalanan karier sebagai pelatih. Dalam 10 laga sebelumnya pelatih berusia 48 tahun punya statistik positif.

Partai Manchester United vs Manchester City kali ini akan berlangsung di Stadion Old Trafford. Laga tersebut disebut-sebut sebagai ujian berat terakhir Man City dalam upaya mempertahankan gelar Liga Inggris.

Sepanjang perjalanan karier, Pep Guardiola lebih sering menuai kemenangan melawan Man United di berbagai kompetisi. Berdasarkan catatan Football5star.com dair Transfermarkt, Guardiola sudah enam kali menang, dua kali seri, dan hanya kalah dua kali sejauh ini. Berarti rasio kemenangannya melawan Man United mencapai 60 persen.

Guardiola lawan 3 pelatih Man United

Pertandingan pertama Guardiola melawan Red Devils terjadi pada 27 Mei 2009 saat masih menangani Barcelona. Berkat Man United juga Guardiola sanggup memenangi dua gelar Liga Champions sebagai pelatih di Barcelona.

Ya, dua trofi tersebut mampu digondolnya setelah mengalahkan Man United di dua partai final Liga Champions pada musim 2008-09 dan 2010-11. Saat itu, ia dua kali mengalahkan tim yang ditangani Sir Alex Ferguson.

Thedominionpost.com

Ketika menangani Bayern Munich, Guardiola juga pernah melawan Red Devils di babak perempat final Liga Champions. Melawan tim besutan David Moyes, ia punya catatan imbang 1-1 dan menang 3-1.

Jose Mourinho merupakan pelatih Man United yang paling sering dilawan Guardiola. Total keduanya bertemu sebanyak enam kali. Kontra pelatih berjulukan The Special One akhirnya merasakan dua kali kekalahan.

Kekalahan pertama terjadi di babak keempat Piala Liga Inggris musim 2016-17. Kekalahan kedua terjadi saat skuat asuhan Guardiola, Man City, kalah 2-3 pada laga pekan ke-33 musim 2017-18.

Partai Manchester United vs Manchester City kali ini Guardiola akan menghadapi pelatih Red Devils berbeda keempat. Ya, ia akan melawan tim yang sekarang ditangani Ole Gunnar Solskjaer.

Jika mampu mengalahkan skuat besutan Solskjaer, Man City akan kembali ke puncak klasemen sementara Liga Inggris di tiga pertandingan tersisa. Ya, sekarang Sergio Aguero dkk menempati posisi kedua klasemen dengan raihan 86 poin dari 34 laga.

Jumlah tersebut hanya terpaut dua poin dari Liverpool di puncak klasemen. Akan tetapi, The Reds sudah memainkan 35 pertandingan. Hasil seri atau kalah jelas akan sangat merugikan Man City.

More News on Liga Inggris

James Milner: Pertama Kalinya Dukung Manchester United

Kalah dari Everton, Pogba Sebut Timnya Kurang Ajar

Pertahanan Menjadi Kunci Arsenal Raih Empat Besar

The post Rasio Kemenangan Pep Guardiola Lawan Man United Capai 60 Persen appeared first on Football5star Berita Bola.

5 Penyeberang dalam Derbi Manchester

Football5star.com, Indonesia – Laga sarat gengsi akan tersaji di Stadion Old Trafford saat Manchester United menghadapi tamu agung, sang tetangga berisik, Manchester City. Pertandingan Manchester United vs Manchester City akan digelar pada Kamis (25/4/2019) dini hari WIB.

Meskipun memiliki rivalitas yang cukup panas, ternyata kedua kesebelasan juga memiliki kisah romantis. Kisah romantis ini terlihat dalam pertukaran pemain yang nyatanya sering mereka lakukan.

Football5star merangkum lima pemain yang menyeberang dari Man United ke Man City.

Owen Hargreaves

Pinterest

Meskipun berasal dari Inggris, Owen Hargreaves merupakan jebolan akademi FC Bayern Munich. Di Bayern pula namanya melambung tinggi dan bermain selama delapan musim. Delapan musim itu adalah total sejak ia berada di akademi.

Pada tahun 2007, ia pindah ke Manchester United dengan mahar sebesar 16 juta Poundsterling. Pemain yang mengenakan nomor punggung 4 di Manchester United ini lebih banyak menghabiskan waktunya di meja operasi. Selama empat musim membela The Red Devils, Owen hanya bermain sebanyak 39 kali di semua ajang.

Pada musim 2011-12, ia pindah ke Manchester City dengan bebas transfer. Semusim bermain untuk The Cityzens, ia hanya empat kali bermain di semua ajang dan sekali di Liga Inggris.

Andy Cole

The Independent

Andy Cole merupakan pemain jebolan Arsenal. Mengawali karier profesional bersama Newcastle United, namanya melejit kala pindah ke Manchester United. Ia pindah ke Old Trafford pada musim 1994-95 setelah tampil menawan selama dua musim di St. James Park.

Tujuh musim di Manchester United, bersama dengan Dwight Yorke kedua menjadi tukang gedor paling menakutkan di Liga Inggris. Total, Cole mencetak 121 gol dari 273 kali bertanding.

Pada musim 2006-07, ia pindah ke Manchester City dengan status bebas transfer. Ia hanya bertahan selama satu musim dengan mengecap 23 pertandingan dengan menyarangkan 10 gol sebelum pindah ke Portsmouth.

Andrei Kanchelskis

The42

Lahir di Uni Soviet pada 23 Januari 1969, Andrei Kanchelskis merupakan jebolan akademi di Ukraina. Dilansir dari Transfermarkt, Kanchelskis merupakan jebolan akademi Zirka di Ukraina sebelum akhirnya menjalani debut profesional bersama klub Ukraina yang lain, Dynamo Kyiv.

Pada musim 1991-92, Manchester United memboyongnya dari Shakhtar Donetsk dengan mahar hanya 659 ribu Poundsterling. Saat itu, Manchester United tengah dikepung talenta-talenta terbaik mereka dan uniknya, nama Kanchelskis tak padam. Ia membawa The Red Devils menjuarai Liga Primer Inggris setelah absen selama puluhan tahun. Empat tahun di Manchester United, ia bermain sebanyak 123 kali dan mencetak 28 gol di Liga Inggris

Bertahan empat musim, Kanchelskis dilego ke Everton. Angin membawa ia kembali ke Manchester, kali ini ke Manchester City dengan status pinjaman dari Rangers. Bersama City, ia bermain sebanyak 10 kali dan tak sekalipun mencetak gol di Liga Inggris.

Peter Schmeichel

Manchester Evening News

Nasib keempat pemain di atas memiliki kesamaan. Mereka meraih kesuksesan atau minimal bertahan lebih lama di Manchester United. Sedangkan di Manchester City, mereka hanya menghabiskan sisa kariernya. Begitu pula kisah Peter Schmeichel. Manchester United menjadi klub pertama Schmeichel di luar Denmark.

Schmeichel pindah ke Manchester United pada musim 1991-92. Kedatangan Schmeichel bersamaan dengan kedatangan Kanchelskis. Bedanya, penjaga gawang berkebangsaan Denmark ini bertahan selama delapan musim. 341 pertandingan ia mainkan untuk The Red Devils dan mencetak satu gol.

Pada musim 2002-04, ia pindah ke Manchester City dengan status bebas transfer dari Aston Villa. 30 pertandingan ia mainkan bersama The Cityzens dan mengakhiri kariernya di sana.

Carlos Tevez

Zimbio

Carlos Tevez menjadi salah satu pemain bengal yang kisahnya masih bisa kita nikmati hingga saat ini. Jebolan akademi Boca Juniors ini sempat pindah ke Corinthians sebelum merantau ke Eropa bersama West Han United. Kepindahannya ke WHU pun sempat memunculkan masalah lantaran ada andil pihak ketiga dalam proses transfer.

Pada musim 2007-08, ia pindah ke Manchetser United dari West Ham dengan status pinjaman. United mengeluarkan dana sebesar 12 juta Poundsterling dan bertahan selama dua musim. Selama dua musim itu, Tevez bermain sebanyak 99 kali da mencetak 34 gol.

Musim 2009-10, ia dilego ke Manchester City dengan harga 29 juta Poundsterling. Kariernya melejit di Manchester Biru dan bertahan selama empat musim. 148 kali ia bermain dan 73 gol ia lesatkan untuk Manchester City.

More News on Liga Inggris

James Milner: Pertama Kalinya Dukung Manchester United

Kalah dari Everton, Pogba Sebut Timnya Kurang Ajar

Pertahanan Menjadi Kunci Arsenal Raih Empat Besar

The post 5 Penyeberang dalam Derbi Manchester appeared first on Football5star Berita Bola.

Derbi Manchester, Adu Tangkas David de Gea dan Ederson Moraes

Football5Star.com, Indonesia – Laga penentuan juara. Begitulah beberapa pihak, termasuk Sir Alex Ferguson, menyebut pertandingan Manchester United vs Manchester City alias Derbi Manchester, tengah pekan nanti sebagai penentuan. Sir Alex meyakini, armada Pep Guardiola akan terpeleset sehingga Liverpool yang akan juara Premier League.

Ramalan Sir Alex Ferguson tersebut patut diuji. Pasalnya, Manchester United belakangan ini tengah jeblok. Dalam sembilan laga beruntun, gawang tim asuhan Ole Gunnar Solskjaer itu tak pernah clean sheet. Pada leg II perempat final, David de Gea bahkan membuat blunder saat menangkap bola tendangan Lionel Messi.

standard.co.uk

Ini menjadi pertanyaan besar jelang melawan Manchester City. Apalagi, Manchester United juga dihajar Everton empat gol tanpa balas sebelum Derbi Manchester. Menghadapi The Cityzens dengan lini serang luar biasa, tentu mereka harus ketar-ketir.

Sergio Aguero dkk. tercatat hanya sekali gagal mencetak gol dalam 18 laga beruntun di berbagai ajang. Satu-satunya anomali itu terjadi saat mereka kalah 0-1 pada leg I perempat final Liga Champions di kandang Tottenham Hotspur.

Kelalaian De Gea saat melawan Barcelona akan terus jadi perbincangan. Namun, di mata Ole Gunnar Solskjaer, itu bukan hal besar. Dia tetap menilai De Gea sebagai sosok penting di timnya saat ini. Tak terkecuali pada Derbi Manchester nanti.

Asep/Football5Star.com

“Itu hanya sebuah kesialan bagi penjaga gawang. Sialnya, ketika kesalahan dibuat, itu akan jadi sorotan dan terus diingat,” ujar Solskjaer selepas pertandingan seperti dikutip Football5Star.com dari One Football. “Namun, dia juga membuat beberapa penyelematan fantastis. Secara umum, kontribusinya bagi tin tetap bagus.”

Memang tak adil bila De Gea disudutkan hanya karena blunder pada laga melawan Barcelona itu. Sepanjang musim, kiper asal Spanyol itu tetap menunjukkan kelihaiannya di bawah mistar gawang. Andai bukan dia yang mengawal gawang, Manchester United mungkin akan jauh lebih terpuruk.

Statistik menunjukkan hal itu. Pada gelaran Premier League musim ini, De Gea menyelamatkan 70,19 persen tembakan yang mengarah ke gawangnya. Patut dicatat, ada 153 tembakan yang dihadapinya dalam 34 penampilan bersama Manchester United pada Premier League musim ini. Persentase itu menempatkan De Gea di posisi keempat di antara para kiper yang menghadapi setidaknya 100 tembakan.

Ederson Lebih Santai

Berdasarkan jumlah tembakan yang dihadapi sepanjang musim ini, De Gea ada di posisi keempat. Hanya Lukasz Fabianski (West Ham United, 185), Neil Etheridge (Cardiff City, 183), dan Ben Foster (Watford, 158) yang menghadapi lebih banyak tembakan dari kiper timnas Spanyol itu.

Jika dibandingkan, De Gea jauh lebih sibuk dibanding Ederson. Dari jumlah tendangan yang mengarah ke gawang, Ederson hanya menghadapi kurang dari 100 tembakan. Hingga laga melawan Tottenham Hotspur, kiper Manchester City itu hanya menghadapi 72 tembakan. Di antara para kiper utama klub-klub Premier League musim ini, hanya Wayne Hennessey (Crystal Palace) yang menghadapi lebih sedikit tembakan.

standard.co.uk

Satu hal yang menjadi poin negatif, tingkat penyelamatan Ederson tidak terlalu bagus. Dari 72 tembakan yang mengarah ke gawangnya, hanya 50 yang berhasil diselamatkan mantan kiper Benfica itu. Artinya, tingkat penyelamatan kiper asal Brasil itu hanya 69,44 persen. Itu sedikit lebih buruk dari De Gea.

Meskipun demikian, Pep Guardiola tak pernah mengeluh atau mengkritik sang kiper. Dia puas oleh penampilan Ederson yang bertindak sebagai sweeper. Dalam konsepnya, seorang kiper memang harus menjadi pelindung bagi empat pemain belakang.

“Saya senang karena dia bermain lebih ke depan. Kiper harus menolong back four kami dengan umpan-umpan panjang dan dia itu sempurna. Setelah itu, dia harus lebih tepat,” kata Guardiola seperti dikutip dari London Evening Standard. “Jika dia mampu membangun serangan dengan lebih baik, para gelandang kami pun akan mendapatkan bola dalam kondisi lebih baik.”

Terlepas dari hal itu, ketangkasan Ederson tetaplah hal yang paling penting pada laga-laga penting. Tak terkecuali ketika meladeni Manchester United di Stadion Old Trafford nanti. Kalah tangkas dari De Gea, bukan tak mungkin ramalan Sir Alex Ferguson akan terwujud.

More News on Liga Inggris

James Milner: Pertama Kalinya Dukung Manchester United

Kalah dari Everton, Pogba Sebut Timnya Kurang Ajar

Pertahanan Menjadi Kunci Arsenal Raih Empat Besar

The post Derbi Manchester, Adu Tangkas David de Gea dan Ederson Moraes appeared first on Football5star Berita Bola.

Empat Wakil Inggris di Perempat Final, Sinyal Bagus bagi Man. United?

Football5Star.com, Indonesia – Delapan tim akhirnya memastikan melaju ke perempat final Liga Champions. Tottenham Hotspur, FC Porto, Manchester United, dan Ajax Amsterdam meraih tiket 8-besar pada pekan lalu. Sementara itu, Juventus, Manchester City, Barcelona, dan Liverpool memastikannya pada tengah pekan ini.

Menilik komposisi yang ada, Inggris mendominasi. Manchester United, Manchester City, Liverpool, dan Tottenham Hotspur membuat perempat final Liga Champions kali ini beraroma Premier League. Ini sesuatu yang terbilang langka dan istimewa.

dailymail.co.uk

Sebelum musim ini, empat wakil Inggris di perempat final Liga Champions baru terjadi dua kali, yakni pada musim 2007-08 dan 2008-09. Pada dua musim tersebut, Manchester United, Liverpool, Arsenal, dan Chelsea sama-sama berada di 8-besar. Kini, tempat Arsenal dan Chelsea diambil Manchester City dan Tottenham Hotspur.

Menilik catatan hasil Liga Champions pada dua musim beruntun itu, Manchester United punya kenangan bagus. Mereka selalu mampu menembus final. Bahkan, pada 2007-08, mereka sanggup menjadi juara dengan mengalahkan Chelsea lewat adu penalti yang diwarnai insiden John Terry terpeleset saat jadi algojo kelima.

Sementara itu, pada musim berikutnya, anak-anak asuh Sir Alex Ferguson gagal mempertahankan gelar. Dua gol dari Samuel Eto’o dan Lionel Messi membuat mereka harus menyerahkan Si Kuping Besar kepada Barcelona.

Derbi Inggris untuk Liverpool

Bukan hanya Manchester United yang punya catatan menarik saat empat wakil Inggris meramaikan perempat final Liga Champions. Liverpool pun demikian. Bedanya, catatan menarik klub berjuluk The Reds itu ada di perempat final.

Dalam dua kesempatan terdahulu empat wakil Inggris berada di perempat final, Liverpool selalu ditakdirkan menjalani Derbi Inggris. Pada 2007-08, The Reds harus meladeni Arsenal. Musim berikutnya, giliran Chelsea yang menjadi lawan mereka.

thisisanfield.com

Hasil Derbi Inggris itu pun berbeda. Liverpool berhasil melewati adangan Arsenal pada 2007-08 dengan kemenangan agregat 5-3. Imbang 1-1 di kandang lawan pada leg I, mereka menang 4-2 di kandang sendiri pada leg II.

Musim berikutnya, the Reds kalah agregat 5-7 dari Chelsea. Kalah 1-3 di Stadion Anfield pada leg I, tim yang kala itu ditangani Rafael Benitez hanya mampu imbang 4-4 pada leg II di Stadion Stamford Bridge.

Satu fakta menarik lain, pada dua kesempatan terdahulu, hanya satu wakil Inggris yang akhirnya gagal lolos ke semifinal. Satu-satunya wakil yang gagal itu adalah yang kalah dalam Derbi Inggris. Artinya, semua wakil Inggris yang menghadapi wakil negara lain selalu berhasil melaju ke semifinal.

Di babak 4-besar, tiga klub Inggris itu lantas mengeroyok Barcelona yang pada dua musim tersebut selalu bertemu wakil Jerman di perempat final. Pada 2007-08, langkah klub berjuluk Blaugrana dihentikan Manchester United berkat gol tunggal Paul Scholes pada leg II semifinal di Old Trafford. Adapun pada musim berikutnya, mereka tak teradang dan lantas juara.

More News on Liga Champions

Legenda Milan Puji Van Dijk Setinggi Langit

Ruud Gullit: Ronaldo Pemain Terbaik Sepanjang Masa

Ancelotti: Ronaldo Selalu Bikin Perbedaan di Pertandingan Besar

The post Empat Wakil Inggris di Perempat Final, Sinyal Bagus bagi Man. United? appeared first on Football5star Berita Bola.

5 Fakta Menarik Partai Manchester United vs PSG

Football5Star.com, Indonesia – Paris Saint-Germain (PSG) mewujudkan sebuah misi mustahil. Bertandang ke kandang Manchester United, Rabu (13/2/2019) dini hari WIB, anak-anak asuh Thomas Tuchel berhasil menang 2-0 berkat gol yang dicetak Presnel Kimpembe dan Kylian Mbappe. Padahal, mereka datang tanpa Neymar dan Edinson Cavani.

Ada banyak fakta menarik dari kemenangan yang dibukukan PSG atas Manchester United tersebut. Berikut ini, Football5Star.com menyajikan 5 fakta menarik yang mewarnai laga leg I babak 16-besar Liga Champions itu.

1. Kekalahan Pertama Solskjaer

standard.co.uk

Ole Gunnar Solskjaer akhirnya merasakan kekalahan pertamanya sebagai manajer caretaker Manchester United. Sebelum ini, klub berjuluk Red Devils tersebut tak pernah kalah dalam sebelas pertandingan beruntun di semua ajang sejak sang caretaker datang menggantikan Jose Mourinho.

Dalam sebelas pertandingan sebelumnya, anak-anak asuh Solskjaer menangguk sepuluh kemenangan dan satu hasil imbang. Menariknya, seperti halnya kekalahan dari PSG, satu-satunya hasil imbang juga dituai di Old Trafford. Itu terjadi saat mereka diimbangi Burnley 2-2. Mereka nyaris kalah andai tak ada gol Victor Lindelof pada injury time.

2. Kekalahan Kandang Terbesar di Kancah Eropa

standard.co.uk

Torehan rekor terus mengiringi Ole Gunnar Solskjaer sejak menangani Manchester United. Namun, kali ini, dia justru menorehkan rekor negatif. Kekalahan dari PSG adalah yang terburuk bagi Red Devils di kandang sendiri kala berlaga di kancah antarklub Eropa.

Sebelum ini, tak pernah sekali pun Manchester United kalah dengan selisih dua gol di kandang sendiri saat berlaga di kancah antarklub Eropa. Dalam 177 kesempatan, mereka hanya 14 kali kalah dan semuanya dengan selisih satu gol. Bahkan tim kuat macam Juventus dan Real Madrid pun tak sanggup menang dengan margin dua gol di Old Trafford.

3. Kemenangan Pertama Wakil Prancis di Old Trafford

standard.co.uk

Keberhasilan PSG mengakhiri keangkeran Old Trafford bagi klub-klub Prancis. Sebelum ini, 13 kali Manchester United menjamu wakil-wakil Prancis. Dari 13 pertandingan tersebut, Red Devils berhasil menangguk sepuluh kemenangan.

Hanya tiga kali hasil imbang terjadi ketika Manchester United menjamu wakil Prancis. Pertama, hasil imbang 1-1 dengan Montpellier HSC di Piala Winners 1990-91. Kedua, imbang 1-1 dengan AS Monaco di Liga Champions 2003-04. Ketiga, seri tanpa gol dengan Lille OSC di Liga Champions 2005-06.

4. Kemenangan Pertama PSG di Manchester

standard.co.uk

Bagi PSG, keberhasilan menaklukkan Manchester United di Old Trafford merupakan kemenangan pertama di Kota Manchester. Dalam dua lawatan sebelumnya ke kota ini, mereka tak menang. Bahkan, klub berjuluk Les Parisiens tersebut selalu gagal mencetak gol.

Dua lawatan terdahulu PSG ke Kota Manchester adalah saat bertamu ke kandang Manchester City. Pada lawatan pertama yang berlangsung pada 3 Desember 2008, mereka imbang 0-0. Adapun lawatan kedua pada 12 April 2016 berujung kekalahan 0-1.

5. Tulah Orsato Berlanjut

standard.co.uk

Kekalahan 0-2 dari PSG mempertegas status Daniele Orsato sebagai pembawa tulah bagi Manchester United. Ini kali ketiga Red Devils dipimpin wasit asal Italia itu dan hasilnya selalu kalah. Bukan hanya selalu kalah, mereka pun selalu gagal mencetak gol.

Dalam dua kesempatan sebelumnya, Manchester United mengalami kekalahan 0-1 saat diwasiti Orsato. Kekalahan pertama dialami di Old Trafford saat menjamu CFR Cluj pada ajang Liga Champions 2012-13. Sementara itu, kekalahan kedua didapatkan di kandang FC Basel pada 2017-18.

More News on Liga Champions

Bayern Munich Ketar-ketir Jelang Lawatan ke Kandang Liverpool

Bayern Terancam Tanpa Kingsley Coman Saat Lawan Liverpool

Presiden Bayern Munich Menyesal Pernah Batal Gaet Juergen Klopp

The post 5 Fakta Menarik Partai Manchester United vs PSG appeared first on Football5star Berita Bola.

Sihir Ole Bangkitkan Setan Merah

Football5star.com, Indonesia – Manchester United perlahan keluar dari tren buruk. Itu berkat kedatangan Ole Gunnar Solskjaer yang menggantikan Jose Mourinho di kursi manajer pada pertengahan Desember 2018.

Lima laga perdana di bawah kendali Solskjaer, Setan Merah berhasil menyapu bersih kemenangan. Paul Pogba dan kolega seolah keluar dari situasi buruk yang dialami ketika Mourinho masih melatih.

Dalam waktu singkat, Solskjaer berhasil mengangkat moral anak asuhnya. Manajer asal Norwegia tersebut membawa aura positif sejak tiba di Old Trafford.

Beda situasinya saat Mourinho masih memimpin Man. United. Dia tidak segan mengkritik keras pemainnya di media dan bahkan beberapa kali terlibat konflik dengan Pogba.

“Ole memiliki kepribadian yang menular kepada semua orang. Dia sangat positif dan selalu optimistis. Saya pikir Anda bisa melihat itu menular dan itu yang membuat kemampuan terbaik pemain keluar,” kata asisten manajer Man. United, Michael Carrick.

Terinspirasi Ferguson

Perubahan lain yang terlihat dari gaya bermain Man. United. Tak ada lagi permainan pragmatis yang kerap mengandalkan serangan balik dan umpan panjang seperti pada era Mourinho.

Terbukti, Man. United mampu melesakkan 16 gol sejak
Solskjaer duduk di kursi manajer. Statsitik menyerang mereka pun menunjukkan
tren yang lebih baik ketimbang pada era Mourinho.

Solskjaer mengaku terinspirasi dengan mantan manajer Man. United, Sir Alex Ferguson. Selain berusaha menjaga keutuhan skuat, dia pun gemar memainkan taktik ofensif. Persis dengan Ferguson yang menukangi Setan Merah selama lebih dari dua dekade.

Ferguson merupakan sosok yang sangat berpengaruh
bagi Solskjaer. Keduanya bekerja sama sebagai manajer dan anak didik selama
sembilan musim. Bahkan, Solskjaer juga banyak belajar dari pria asal Skotlandia
itu sebagai manajer ketika saat menjadi staf pelatih tim senior hingga arsitek
tim cadangan Setan Merah.

“Saya memang mendapat gaya manajerial dari Sir
Alex. Dia membawa pengaruh yang sangat besar bagi saya, tetapi kepribadian kami
berbeda,” ungkap Solskjaer, seperti dilansir Sky Sports. “Kami hanya ingin melihat semua orang mengekspresikan
diri. Itu yang membuat saya bahagia.”

Harapan Bagi Bintang Muda

Kedatangan Solskjaer juga mendongkrak motivasi para pemain muda Man. United. Di tangannya, Marcus Rashford, Anthony Martial, Luke Shaw dan Jesse Lingard lebih mendapat kepercayaan. Mereka pun membayarnya dengan tampil bagus dalam pertandingan.

“Seperti yang dikatakan Sir Matt (Busby), jika
bagus, mereka (pemain-pemain muda) sudah cukup dewasa. Kami harus
mempertahankan tradisi itu. Kami membutuhkan para pemain muda. Itu penting bagi
para pemain akademi bahwa saya melihat perkembangan para pemain,” jelas dia,
seperti dilansir Standard.

Beberapa hal tersebut menjadi kiat sukses Solskjaer
bersama Man. United. Tak heran apabila sejumlah pemain berharap manajemen klub
mempertahankan manajer asal Norwegia tersebut. Dukungan juga datang dari
beberapa rekan setimnya dulu.

“Secara personal, saya senang jika Ole mendapatkan pekerjaan itu (manajer Man. United). Orang membahas rekor dia di Cardiff. Bukan tidak menghormati, tetapi kita bicara dua klub yang berbeda,” kata David May, mantan bek Setan Merah.

Statistik Solskjaer vs Mourinho di Premier League 2018-19

                                                                Solskjaer               Mourinho

Main                                                      4                              17

Gol                                                          3,5                          1,7

Kebobolan                                            0,75                        1,7

Total Tembakan                                 15                           12,7

Tembakan Akurat                              8,5                          6

Total Tembakan Lawan                    10                           13,9

Tembakan Akurat Lawan                 2,8                          5,2

Ball Possession                                     67%                        53,2%

Operan                                                   661,3                      496,2
The post Sihir Ole Bangkitkan Setan Merah appeared first on Football5star Berita Bola.

FEATURE: 5 PR Besar Solskjaer di Manchester United

Football5star.com, Indonesia – Pergantian manajer akhirnya tak terhindarkan di Manchester United. Selasa (18/12/2018), Jose Mourinho resmi dilengserkan. Keesokan harinya, Ole Gunnar Solskjaer diangkat sebagai manajer caretaker. Mantan striker timnas Norwegia itu diberi tugas hingga akhir musim.
Meskipun hanya sebagai manajer sementara, tentu saja Solskjaer bukan hanya pengisi kekosongan. Dia pasti diharapkan mampu mengurai permasalahan yang ada di Manchester United selama ditangani Mourinho. Berikut ini, Football5Star.com menguraikan 5 pekerjaan rumah besar yang dihadapi pria yang semasa aktif dijuluki The Baby-faced Assasin itu.

1. Mengembalikan Harmoni di Kamar Ganti
futaa.com
Sudah bukan rahasia, selama musim ini, ruang ganti Manchester United tidak harmonis. Meskipun selalu ditutupi dan tak diakui, ada ketegangan di antara beberapa pemain dengan Mourinho. Secara spesifik, Paul Pogba dengan The Special One. Maklum, sang manajer kerap kali melontarkan pernyataan kontroversial soal sang pemain.
Tak pelak, tugas pertama dan utama Solskjaer adalah menyelesaikan hal tersebut. Harmoni harus kembali dirajut di dalam skuat sehingga kebersamaan dan saling percaya bisa tumbuh kembali. Ini akan menjadi dasar untuk membangkitkan Red Devils dari keterpurukan.

2. Menetapkan Skema Pasti
90min.de
Sepanjang musim ini, Jose Mourinho seolah tak punya susunan pemain yang pasti. Tak ada starting XI baku. Rotasi tak henti dilakukan. Di satu sisi, ini membuat lawan susah meraba kekuatan mereka. Namun, di sisi lain, ini membuat Manchester United tak punya sebuah skema dan susunan pemain andalan.
Guna membangkitkan Red Devils, Solskjaer mesti memastikan siapa pemain utama, siapa pemain cadangan. Ini sangat penting guna menumbuhkan kepercayaan diri para pemain, terutama para bintang utama Manchester United yang sangat labil pada musim ini.

3. Memperbaiki Pertahanan
itv.com
Gaya main Manchester United kerap jadi sasaran kritik semasa ditangani Jose Mourinho. Mereka kerap dituding tidak atraktif dan cenderung memainkan negative football. Namun, anehnya, pertahanan mereka begitu rapuh.
Dalam 17 laga yang telah dilakoni di Premier League musim ini, Red Devils telah kebobolan 29 gol. Itu hanya lebih baik dari Fulham (42), Burnley (33), Cardiff City (33), dan Southampton (32). Selain itu, Red Devils juga sangat jarang clean sheet. Sepanjang musim ini, mereka baru dua kali tak kebobolan. Itu hanya lebih baik dari Fulham.
Membenahi lini pertahanan menjadi hal penting karena seperti kata pepatah lama di sepak bola, pertahananlah yang membuat sebuah tim juara. Solskjaer harus bercermin ke Liverpool yang sejak musim lalu membenahi lini pertahanan dan mulai menunjukkan buahnya pada musim ini.

4. Membangkitkan Para Bintang
sport360.cm
Sepanjang musim ini, penurunan performa ditunjukkan hampir semua pemain Manchester United. Terutama para bintang yang sejatinya diharapkan menjadi pemimpin, teladan, dan pemutus kebuntuan di lapangan. Paul Pogba, Alexis Sanchez, Nemanja Matic, dan Romelu Lukaku adalah beberapa pilar kerap menjadi sorotan.
Menilik kelas dan kualitas para bintang yang ada, tak ada keraguan bahwa Red Devils akan dapat bangkit dan kembali ke habitatnya sebagai tim papan atas di Premier League andai para bintang yang ada selalu tampil konsisten dan dapat diandalkan setiap pekan. Tak ayal, Solskjaer wajib membangkitkan mereka.

5. Memperjelas Fungsi Pemain
standard.co.uk
Dalam skema permainan Jose Mourinho musim ini, beberapa pemain kerap tak memiliki peran jelas dan pasti. pemain yang paling disorot adalah Marcus Rashford. Pemain yang diorbitkan Louis van Gaal itu justru menurun sejak ditangani Mourinho.
Beberapa pengamat menilai Rashford jadi korban keserbabisaannya. Seiring kedatangan Romelu Lukaku dan Alexis Sanchez, dia tak pernah punya posisi yang pasti. Inilah yang ditengarai menurunkan ketajamannya. Hal serupa juga dialami Ander Herrera, Paul Pogba, dan Juan Mata di lini tengah.

More News on Liga Inggris

Xavi Kagumi Permainan Chelsea di Bawah Asuhan Sarri

Sane Geleng-Geleng Lihat Ketajaman Sterling

Pelatih Wolverhampton Senang Usai Dikalahkan Liverpool

The post FEATURE: 5 PR Besar Solskjaer di Manchester United appeared first on Football5star Berita Bola.

ANALISIS: Arsenal Sulit Clean Sheet di Old Trafford

Football5star.com, Indonesia – Arsenal akan melawat ke Stadion Old Trafford, kandang Manchester United, pada Kamis (6/12/2018) dini hari WIB. Anak-anak asuh Unai Emery punya bekal apik setelah menang 4-2 atas Tottenham Hotspur dan tak terkalahkan dalam 19 laga beruntun di berbagai ajang.
Akan tetapi, itu bukan berarti misi Arsenal di Old Trafford nanti akan ringan. Guna meneruskan tren tak terkalahkan, The Gunners harus menghadapi satu tantangan besar. Itu adalah gawang yang begitu mudah kebobolan.
standard.co.uk
Sepanjang musim ini, di Premier League, Arsenal baru mencatat dua kali clean sheet, yakni saat melawan Everton dan Watford pada 23 dan 29 September 2018. Kala menghadapi The Toffees, clean sheet dibukukan Petr Cech, sedangkan ketika meladeni The Hornets, clean sheet dibukukan bersama oleh Cech dan Bernd Leno.
Khusus Leno, selain 45 menit saat melawan Watford, gawangnya selalu kebobolan dalam tujuh pertandingan beruntun di Premier League. Terakhir, dua gol bersarang di gawang The Gunners kala menghadapi Tottenham. Dia takluk oleh tandukan Eric Dier dan penalti Harry Kane.
11 Lawatan Tanpa Clean Sheet
Ini bukan modal bagus. Pasalnya, Arsenal sangat sulit pulang dari Old Trafford tanpa kebobolan. Sejak 2009-10, selalu saja mereka pulang tanpa clean sheet. Dalam sembilan musim, The Gunners melakoni sebelas lawatan ke Old Trafford di berbagai ajang. Hasilnya, mereka kebobolan total 24 gol atau rata-rata sekitar dua gol per laga.
independent.co.uk
Catatan terburuk tentu saja pada lawatan musim 2011-12. Kala itu, Arsenal kalah dengan skor 2-8! Wayne Ronney mencetak hat-trick, Ashley Young membuat brace, sedangkan Danny Welbeck, Nani, dan Park Ji-sung sama-sama menjejalkan satu gol ke gawang The Gunners yang kala itu dikawal Wojciech Szczesny.
Misi pulang dari Old Trafford dengan clean sheet makin sulit mengingat rekor sangat buruk Leno saat menghadapi Manchester United. Dalam dua kesempatan sebelumnya saat masih bersama Bayer Leverkusen, gawang Leno selalu kebobolan setidaknya empat gol.
Itu terjadi pada fase grup Liga Champions 2012-13. Di Old Trafford, kiper yang kini diandalkan Arsenal itu dibobol empat kali yang membuat Leverkusen takluk 2-4. Di kandang sendiri, BayArena, catatan yang dibuat Leno lebih buruk, Gawangnya jebol lima kali dan Die Werkself kalah 0-5.

More News on Liga Inggris

Guardiola Percaya Sterling Bisa Lebih Baik Lagi

Chelsea Perpanjang Masa Bakti Azpilicueta Hingga 2022

Manchester City Terancam Tak Ikut Liga Champions

The post ANALISIS: Arsenal Sulit Clean Sheet di Old Trafford appeared first on Football5star Berita Bola.

ANALISIS: Kans Man. United Menang di Stadion Allianz Hanya 4,76 Persen

Football5star.com, Indonesia – Laga besar nan sulit yang harus dimenangi tapi tidak terlalu menentukan. Begitulah kira-kira resume omongan Jose Mourinho, manajer Manchester United, jelang laga matchday IV Liga Champions di Stadion Allianz, kandang Juventus.
Sekilas, terkesan ada nada pasrah dari omongan Mourinho tersebut. Namun, itu kiranya tidaklah berlebihan. Menang di Stadion Allianz bukanlah perkara mudah bagi Manchester United. Memang benar, Real Madrid musim lalu sempat berpesta 3-0 di sana, tapi itu adalah satu dari hanya sedikit kekalahan yang diderita Juventus sejak bermarkas di sana pada 2011.
reuters.com
Mengalahkan Juventus di Stadion Allianz tak ubahnya misi yang hampir mustahil, sungguh sangat sulit. Total, dari 189 laga yang telah dilakoni La Vecchia Signora di sana, hanya ada sembilan kekalahan. Artinya, kans Manchester United untuk merebut tiga poin di kandang Juventus tersebut hanya 4,76 persen. Adapun kans imbang pun 16,4 persen saja.
Khusus di Liga Champions, Juventus baru dua kali kalah di Stadion Allianz. Selain dari Madrid pada musim lalu, kekalahan lain didapatkan dari Bayern Munich pada musim 2012-13. Kala itu, Bayern menang 2-0. Sisanya, I Bianconeri membukukan 18 kemenangan dan 10 hasil imbang.
Hal lain yang membuat misi Manchester United di Stadion Allianz bertambah berat adalah rekor buruk klub-klub Inggris di sana. belum ada yang berhasil menang di sana. Chelsea dihajar 3-0 pada 2012, Manchester City ditekuk 1-0 pada 2015, dan Tottenham Hotspur hanya imbang 2-2 pada musim lalu.
Akan tetapi, seperti kata pepatah, tak ada yang mustahil. Lalu, akan selalu ada yang pertama. Begitu pula dengan Manchester United untuk jadi tim Inggris pertama yang menang di Stadion Allianz. Satu hal yang pasti, seperti juga diyakini Mourinho, itu akan sangat sulit dan butuh kerja mahakeras.

The post ANALISIS: Kans Man. United Menang di Stadion Allianz Hanya 4,76 Persen appeared first on Football5star Berita Bola.