KOLOM: Polemik Mourinho dan Kisah Es Krim Kerucut

Football5star.com, Indonesia – Konflik internal Manchester United tidak kunjung mereda. Imbasnya, pasukan Jose Mourinho menelan serangkaian hasil mengecewakan.
Man. United melorot ke posisi ke-10 klasemen sementara Premier League. Penyebabnya adalah kekalahan 1-3 saat menghadapi West Ham United di London Stadium, Sabtu (29/9/2018).
Setan Merah baru mengoleksi 10 angka pada musim 2018-19. Itu menyamai catatan terburuknya sepanjang Premier League ketika di bawah asuhan David Moyes pada musim 2013-14.
Awal polemik muncul pada pramusim. Mourinho berulang kali mengkritik performa anak-anak asuhnya, seperti Anthony Martial, Paul Pogba hingga terakhir Alexis Sanchez.
Perdebatan Jose Mourinho dengan Paul Pogba di pinggir lapangan. Foto: Zimbio
Hubungan Mourinho dan direktur klub Ed Woodward memburuk. Manajer asal Portugal tersebut kesal lantaran tidak mendapat pemain baru sesuai harapan pada musim panas lalu.
Kegaduhan bertambah setelah Mourinho terlibat friksi dengan Pogba dalam sesi latihan belum lama ini. Gelandang Prancis tersebut tidak lagi mendapat kepercayaan untuk memakai ban kapten.

Kisah Es Krim Kerucut
George Bang kebakaran jenggot saat kios es krimnya, Creamery Banner, banjir pesanan dari pelanggan di St Louis Worlds Fair, Missouri, pada 1904.
Semua mangkuk es krim berada dalam keadaan kotor. Para calon pembeli satu per satu angkat kaki lantaran terlalu lama menunggu wadah penyaji dicuci.
Ernest Hamwi, penjual kue wafer di sebelah Creamery Banner, mendatangi Bang dengan ide brilian. Dia memberi solusi untuk mengganti wadah mangkuk dengan wafer dagangannya.
Setelah mendapat persetujuan, Hamwi membuatkan wafer berbentuk corong untuk dijadikan wadah penyaji es krim Creamery Banner. Inovasi tersebut rupanya cocok dengan selera pembeli.
Tidak hanya lebih praktis dibanding mangkuk. Wafer renyah berbentuk kerucut bisa dimakan oleh para pembeli.
Sinergi antara barang dagangan Bang dan Hamwi menghadirkan solusi jitu. Sebuah inovasi yang membuat es krim kerucut mulai naik daun sejak saat itu.
Man. United sejatinya bisa memetik hikmah dari kisah es krim kerucut dalam menyikapi polemik masalah internal yang tengah terjadi pada musim ini.
Hubungan Jose Mourinho dan direktur Man. United, Ed Woodward, memburuk pada musim ini. Foto: Daily Star
Tidak ada jalan lain bagi Setan Merah. Segala masalah yang terjadi mustahil mereda jika semua pihak terkait tidak duduk bersama untuk mencari solusi terbaik dan menjalankannya.
Dalam kelompok atau organisasi apa pun, termasuk klub sepak bola, masalah tidak akan usai tanpa adanya sinergi. Mengedepankan ego masing-masing hanya memperkeruh suasana.
Itulah masalah terbesar Manchester United di bawah asuhan Jose Mourinho musim ini. Pamor Setan Merah sebagai salah satu klub berprestasi di dunia terancam terus memudar.
The post KOLOM: Polemik Mourinho dan Kisah Es Krim Kerucut appeared first on Football5star Berita Bola.

5 Fakta Menarik Pekan Ke-7 Premier League 2018-19

Football5star.com, Indonesia – Pertarungan dua klub raksasa, yaitu Chelsea dan Liverpool, menghiasi pekan ketujuh Premier League 2018-19 yang bergulir pada 29 September hingga 1 Oktober lalu.
Laga yang berlangsung di Stamford Bridge itu berakhir imbang 1-1. Tuan rumah unggul lebih dulu lewat Edin Hazard (25′) sebelum The Reds menyamakan skor berkat lesakan Daniel Sturridge (89′).
Manchester City mengambil keuntungan dari hasil imbang dua rivalnya tersebut. The Citizens mengambil alih puncak klasemen berkat kemenangan 2-0 atas Brighton & Hove Albion di Etihad Stadium.
Berbeda dengan rival sekotanya, Manchester United justru kembali menelan hasil negatif. Setan Merah tumbang dengan skor 1-3 di markas West Ham United, London Stadium.
Geliat Wolverhampton Wanderers sebagai klub promosi menunjukkan tren positif. Pasukan Nuno Espirito Santo menekuk Southampton dua gol tanpa balas di Molineux Stadium.
Berikut ini 5 fakta menarik pekan ketujuh Premier League musim 2018-19:

Ketajaman Hazard

Eden Hazard sumbang gol bagi Chelsea ke gawang Liverpool. Foto: ghanasoccernet.com
Hazard kembali menunjukkan kualitasnya. Gelandang timnas Belgia itu kerap kali merepotkan lini belakang Liverpool sebelum akhirnya mampu menaklukkan Alisson Becker.
Sampai pekan ke-7, Hazard memuncaki daftar pencetak gol terbanyak Premier League dengan enam gol. Dia mencatatkan itu hanya dari delapan tendangan ke gawang.

Senjata Rahasia Klopp

Juergen Klopp peluk Daniel Sturridge setelah laga versus Chelsea usai. Foto: Daily Mail
Juergen Klopp patut berterima kasih kepada Sturridge. Berkat gol bomber asal Inggris itu, Liverpool membawa pulang satu poin dari Stamford Bridge.
Sturridge baru masuk ke lapangan untuk menggantikan James Milner pada menit ke-86. Tiga menit kemudian, dia membobol gawang Kepa Arrizabalaga dengan tendangan jarak jauh.
Menurut catatan Opta, Sturridge mencetak gol terbanyak kedua di Premier League sebagai pemain pengganti sejak melakoni debut pada Februari 2007. Dia hanya kalah dua gol dari Olivier Giroud.
Sturridge pun menjadi pemain ketujuh yang mampu mencetak 50 gol atau lebih bagi Liverpool di Premier League. Sebelumnya, itu pernah dilakukan oleh Robbie Fowler, Steven Gerrard, Michael Owen, Luis Suarez, Fernando Torres dan Dirk Kuyt.
The post 5 Fakta Menarik Pekan Ke-7 Premier League 2018-19 appeared first on Football5star Berita Bola.

Mourinho dan Sindrom Musim Ketiga yang Berakhir Pemecatan

Football5star.com, Indonesia – Fans mana yang tidak berbunga-bunga hatinya jika mendengar tim kesayangannya akan dilatih oleh seorang Jose Mourinho. Dia sudah membuktikan tidak ada klub yang tidak akan juara jika sudah ia tangani. Namun, selayaknya manusia biasa, Mourinho juga bukan pelatih yang sempurna.
Selama karier melatihnya, Mourinho sudah mempersembahkan dua Liga Champions, delapan gelar liga, serta 15 trofi Piala Liga. Tapi semua piala prestisius itu diraih pelatih yang akrab disapa Mou itu di dua musim perdananya menjadi nahkoda. Ya, selama ini Mourinho dikenal mempunyai satu penyakit akut bernama sindrom musim ketiga.
Keberadaan Mourinho di Chelsea dan Real Madrid selalu berakhir pada ketok palu pemilik klub, sekali pun di musim sebelumnya dia berhasil mempersembahkan gelar. Tentu masa indahnya di Inter dan Porto menjadi pengecualian karena ia lebih dulu memutuskan hengkang usai meraih treble winner.
todofutebol.com
Kini Mourinho seolah ingin mengulang cerita serupa. Pasalnya Manchester United yang ia latih sekarang tak ubahnya Chelsea dan Madrid yang ia tangani di tahun ketiganya.
Hasil buruk menjadi alasan utama. Setan Merah dibekap West Ham United 1-3 di London Stadium. Kekalahan ini kian mengikis kepercayaan fans United yang tiga hari sebelumnya sudah harus menanggung malu usai dipecundangi Derby County di ajang Carabao Cup.

Persentase Kemenangan yang Terus Merosot
Pada faktanya, performa buruk Setan Merah musim ini sebenarnya sudah lazim terjadi dalam karier manajerial Mourinho. Menurut data yang dikutip Football5star.com dari BBC, persentase kemenangan The Special One selalu merosot tajam di musim ketiga.
Musim ketiganya bersama Porto, Mourinho hanya meraup persentase sebesar 73,5 persen kemenangan. Angka ini menurun dari musim sebelumnya dengan 79,4 persen. Hal serupa juga terjadi pada era pertamanya membangun Chelsea.
Angka statis 76,3 persen yang didapat pada dua musim awal langsung jeblok ketika memasuk musim ketiga. Ia hanya mengantongi 63,2 persen kemenangan. Setali tiga uang dengan Chelsea, raksasa Spanyol, Real Madrid, juga merasakan sindrom pelatih 55 tahun itu.
mirror.co.uk
Sukses meraih 100 poin dan 84, 2 persentase kemenangan di musim keduanya, Mourinho hanya mampu membawa Los Blancos jadi penghuni kedua LaLiga dan tertinggal 13 angka dari Barcelona sebegai juara musim 2012-2013. Persentase kemenangannya pun jeblok ke angka 68,4 persen.
Merajalela ke Italia dan Spanyol pada akhirnya membawa Mourinho “pulang” ke London pada Juli 2013. Sukses meraih trofi Premier League di musim kedua, bulan madu pria kelahiran Setubal di musim ketiga lagi-lagi harus ditentukan oleh “tangan besi” pemilik klub, Roman Abramovich.
Mourinho hanya mengoleksi 25 persen kemenangan dari 16 pertandingan pada musim 2015-2016. Ia pun harus rela dipecat Chelsea, lagi-lagi sebelum pergantian tahun.
Jika dilihat dari performa MU musim ini, Mourinho seolah ingin mencetak hat-trick nasib dipecat sebelum tahun baru. Bagaimana tidak, ia baru mengoleksi tiga kemenangan dari tujuh laga Liga Inggris dan menjadikan ini sebagai start terburuk Setan Merah di era Premier League.

Mourinho dan Masalah dengan Pemain
Menariknya, pemecatan yang dialami pelatih yang beristrikan wanita asal Angola itu diwarnai satu kasus yang sama. Ia selalu terlibat konflik dengan pemain dan manajemen tim jelang dipecat. Bersama Chelsea edisi pertama, ia terlibat perang dingin dengan Abramovich yang enggan mengeluarkan banyak uang di jendela transfer.
Apa yang kemudian dilakukan Mourinho di Madrid justru lebih gila lagi. Ia memangkas waktu bermain ikon klub, Iker Casillas, secara drastis. Bahkan keputusan ini berdampak masif karena melibatkan pemain lain seperti Sergio Ramos, Pepe, dan Raphael Varane.
Setelah itu giliran skuat Chelsea yang dibuat gaduh. Seakan tak puas hanya bermasalah dengan Abramovich di era pertamanya, Mourinho menyalakan api permusuhan pada pemain dan staf medis.
citizentv.com
Tidak main-main, Eden Hazard menjadi sasaran kejengkelan Mou kali itu. Sang pemain juga tidak menampik pertengkaran keduanya. Bahkan saat Chelsea bertemu MU musim lalu, Hazard masih enggan menjabat tangan mantan pelatihnya itu.
Hazard bukan satu-satunya orang di tubuh The Blues yang geram dengan Mourinho. Staff medis tim, Eva Carneiro, juga menjadi musuh abadi pelatih yang kerap melontarkan komentar kontroversial ini.
Usai mengobati Hazard yang terjatuh di lapangan. Eva justru dihadang kritik oleh Mourinho di pinggir lapangan. Bola panas perseteruan keduanya membuat sang manajer membekukan status Eva di tim selama beberapa pekan. Pada akhirnya, wanita asal Portugal itu pun meninggalkan Stamford Bridge.

Mulai dari Ed Woodward Hingga Paul Pogba
Pelatih bernama lengkap Jose Mario dos Santos Felix Mourinho kemudian memulai musim 2018-2019 dengan gusar. Ia menyerang manajemen United yang tidak mampu mendatangkan pemain yang diinginkan pada musim panas.
Belum selesai masalahnya dengan manajemen, dalam hal ini Chief Executive, Ed Woodward, Mourinho kembali menyalakan api permusuhan dengan Pogba. Sempat mengatakan tidak akan memercayakan ban kapten pada sang gelandang, ia kemudian menyambut bintangnya itu dengan dingin di sesi latihan jelang lawan West Ham.
zimbio.com
Puncak permasalahan keduanya pun terjadi di laga kontra West Ham. Kekalahan 3-1 United kian terasa pedas saat Mourinho menarik keluar Pogba. Gelandang asal Prancis itu memang menjabat tangan sang manajer di pinggir lapangan, tapi terlihat jelas raut kekecewaan dan amarah yang terus menumpuk dalam benaknya.
Berdasarkan masalah yang terus diulang dan “hukum” sepak bola yang selalu mengulang sejarah, bukan tidak mungkin sindrom musim ketiga Mourinho berlanjut pada musim ini bersama Setan Merah. Apalagi hanya di Old Trafford lah “Si Mulut Besar” gagal mempersembahkan gelar liga domestik.

More News on Liga Inggris

GALERI: Gol Spektakuler Sturridge Pupus Asa Chelsea

Deschamps: Pogba Tak Bisa Kerja Sendirian

Gol Terbaik Aguero di Mata Legenda Manchester City

 
The post Mourinho dan Sindrom Musim Ketiga yang Berakhir Pemecatan appeared first on Football5star Berita Bola.

Senjata Makan Tuan Bagi Mourinho

Football5star.com, Indonesia – Peribahasa senjata makan tuan tepat untuk menggambarkan apa yang baru dialami manajer Manchester United, Jose Mourinho.
Dua pertandingan terakhir berujung kekecewaan bagi Man. United. Padahal laskar Mourinho tampil di Old Trafford.
Man. United imbang 1-1 saat menjamu Wolverhampton Wanderers pada pekan keenam Premier League, Sabtu (22/9/2018).
Hanya tiga hari berselang, Setan Merah kalah dari Derby County lewat drama adu penalti di babak ketiga Piala Liga Inggris.
Ironisnya, manajer dua klub tadi adalah bekas anak didik Mourinho. Mereka adalah Nuno Espirito Santo (Wolves) dan Frank Lampard (Derby).
Ketika menjadi pemain profesional, Santo lebih banyak menghabiskan waktunya di kursi cadangan dibanding lapangan hijau. Itu justru menjadi pengalaman berharga baginya.
“Saya mengamati laga dari tempat terbaik. Saya melihat ruang, jarang dan pengambilan keputusan para pemain dengan lebih baik,” tutur dia.
Santo tidak pernah dimainkan Mourinho saat membela FC Porto pada 2002-2004. Namun, dia tetap menaruh respek yang besar kepada mantan pelatihnya tersebut.
Nuno Espirito Santo pernah jadi anak asuh Jose Mourinho di FC Porto pada 2002-2004. Foto: The Football League Paper
“Mourinho membawa Porto menjuarai Liga Champions (2003-04) meski tidak punya pemain-pemain kelas dunia,” kenangnya. “Saya sangat memperhatikan saat dia berbicara. Dia berperan besar dalam karier saya.”
Nasib Lampard jauh lebih beruntung ketimbang Santo. Dia merupakan salah satu pemain kesayangan Mourinho selama menukangi Chelsea.
Lampard punya pengalaman yang tidak terlupakan soal Mourinho. Itu terjadi ketika The Special One tiba di Stamford Bridge setelah ditunjuk sebagai manajer The Blues pada 2004.
“Dia mengatakan bahwa saya adalah pemain terbaik dunia,” kata Lampard. Uniknya, percakapan itu terjadi ketika mantan kapten Chelsea tersebut sedang mandi di ruang ganti.
Frank Lampard pada era pertama kepemimpinan Jose Mourinho di kursi manajer Chelsea. Foto: Premier League
Saat itu, Lampard belum menjadi pemain yang punya peran vital bagi Chelsea. Namun, di bawah asuhan Mourinho, dia berkembang pesat hingga menjadi legenda klub asal London tersebut.
Lihat saja pencapaian pria berumur 40 tahun itu. Hingga kini, dia tercatat sebagai pengoleksi penampilan terbanyak keempat (648 gol) dan tersubur (211 gol) dalam sejarah The Blues.
Selain itu, Lampard masuk daftar nomine peraih penghargaan Pemain Terbaik FIFA 2005 bersama Ronaldinho Gaucho dan Samuel Eto’o. Dia finis di posisi kedua.
Hubungan baik antara keduanya tidak sebatas di lapangan hijau, tetapi dalam kehidupan pribadi. “Kami baru saja kembali berkomunikasi melalui telepon, tetapi itu terkait keluarga. Kami hanya membahas anak perempuan saya, bukan pertandingan,” ungkap Lampard sebelum bertandang ke Old Trafford.
Jose Mourinho berhadapan dengan Frank Lampard saat Manchester United vs Derby County. Foto: The Independent
Sebelum bertemu beberapa waktu lalu, Mourinho sempat melayangkan pujian kepada Santo dan Lampard. Dia tentu senang dua mantan muridnya mengikuti jejaknya sebagai manajer.
Di sisi lain, apa yang dia ajarkan menjadi bumberang bagi dirinya sendiri setelah Man. United ditahan Wolves dan kalah dari Derby.
Ini juga menjadi momentum bagi Mourinho untuk mengevaluasi diri. Selama terjun ke dunia pelatih, dia dikenal sebagai manajer dengan pendekatan taktik yang pragmatis.
Berbeda dengan Sir Alex Ferguson yang menangani Setan Merah selama lebih dari dua dekade. Seiring berjalannya waktu, pria asal Skotlandia itu selalu berupaya beradaptasi.
Padahal Ferguson pernah kehilangan beberapa pemain bintang, seperti David Beckham dan Cristiano Ronaldo. Kekuatan klub-klub lain pun terus meningkat, tetapi dia terus meraih prestasi secara konsisten.
Pesan dari Paul Pogba, salah satu pemain andalan Man. United, sejatinya bisa menjadi bahan renungan bagi The Special One.
“Saat bermain di kandang, Anda seharusnya menyerang. Ini adalah Old Trafford. Kami di sini untuk menyerang,” ucapnya, setelah laga melawan Wolves usai.
The post Senjata Makan Tuan Bagi Mourinho appeared first on Football5star Berita Bola.