5 Fakta Menarik Partai Manchester United vs PSG

Football5Star.com, Indonesia – Paris Saint-Germain (PSG) mewujudkan sebuah misi mustahil. Bertandang ke kandang Manchester United, Rabu (13/2/2019) dini hari WIB, anak-anak asuh Thomas Tuchel berhasil menang 2-0 berkat gol yang dicetak Presnel Kimpembe dan Kylian Mbappe. Padahal, mereka datang tanpa Neymar dan Edinson Cavani.

Ada banyak fakta menarik dari kemenangan yang dibukukan PSG atas Manchester United tersebut. Berikut ini, Football5Star.com menyajikan 5 fakta menarik yang mewarnai laga leg I babak 16-besar Liga Champions itu.

1. Kekalahan Pertama Solskjaer

standard.co.uk

Ole Gunnar Solskjaer akhirnya merasakan kekalahan pertamanya sebagai manajer caretaker Manchester United. Sebelum ini, klub berjuluk Red Devils tersebut tak pernah kalah dalam sebelas pertandingan beruntun di semua ajang sejak sang caretaker datang menggantikan Jose Mourinho.

Dalam sebelas pertandingan sebelumnya, anak-anak asuh Solskjaer menangguk sepuluh kemenangan dan satu hasil imbang. Menariknya, seperti halnya kekalahan dari PSG, satu-satunya hasil imbang juga dituai di Old Trafford. Itu terjadi saat mereka diimbangi Burnley 2-2. Mereka nyaris kalah andai tak ada gol Victor Lindelof pada injury time.

2. Kekalahan Kandang Terbesar di Kancah Eropa

standard.co.uk

Torehan rekor terus mengiringi Ole Gunnar Solskjaer sejak menangani Manchester United. Namun, kali ini, dia justru menorehkan rekor negatif. Kekalahan dari PSG adalah yang terburuk bagi Red Devils di kandang sendiri kala berlaga di kancah antarklub Eropa.

Sebelum ini, tak pernah sekali pun Manchester United kalah dengan selisih dua gol di kandang sendiri saat berlaga di kancah antarklub Eropa. Dalam 177 kesempatan, mereka hanya 14 kali kalah dan semuanya dengan selisih satu gol. Bahkan tim kuat macam Juventus dan Real Madrid pun tak sanggup menang dengan margin dua gol di Old Trafford.

3. Kemenangan Pertama Wakil Prancis di Old Trafford

standard.co.uk

Keberhasilan PSG mengakhiri keangkeran Old Trafford bagi klub-klub Prancis. Sebelum ini, 13 kali Manchester United menjamu wakil-wakil Prancis. Dari 13 pertandingan tersebut, Red Devils berhasil menangguk sepuluh kemenangan.

Hanya tiga kali hasil imbang terjadi ketika Manchester United menjamu wakil Prancis. Pertama, hasil imbang 1-1 dengan Montpellier HSC di Piala Winners 1990-91. Kedua, imbang 1-1 dengan AS Monaco di Liga Champions 2003-04. Ketiga, seri tanpa gol dengan Lille OSC di Liga Champions 2005-06.

4. Kemenangan Pertama PSG di Manchester

standard.co.uk

Bagi PSG, keberhasilan menaklukkan Manchester United di Old Trafford merupakan kemenangan pertama di Kota Manchester. Dalam dua lawatan sebelumnya ke kota ini, mereka tak menang. Bahkan, klub berjuluk Les Parisiens tersebut selalu gagal mencetak gol.

Dua lawatan terdahulu PSG ke Kota Manchester adalah saat bertamu ke kandang Manchester City. Pada lawatan pertama yang berlangsung pada 3 Desember 2008, mereka imbang 0-0. Adapun lawatan kedua pada 12 April 2016 berujung kekalahan 0-1.

5. Tulah Orsato Berlanjut

standard.co.uk

Kekalahan 0-2 dari PSG mempertegas status Daniele Orsato sebagai pembawa tulah bagi Manchester United. Ini kali ketiga Red Devils dipimpin wasit asal Italia itu dan hasilnya selalu kalah. Bukan hanya selalu kalah, mereka pun selalu gagal mencetak gol.

Dalam dua kesempatan sebelumnya, Manchester United mengalami kekalahan 0-1 saat diwasiti Orsato. Kekalahan pertama dialami di Old Trafford saat menjamu CFR Cluj pada ajang Liga Champions 2012-13. Sementara itu, kekalahan kedua didapatkan di kandang FC Basel pada 2017-18.

More News on Liga Champions

Bayern Munich Ketar-ketir Jelang Lawatan ke Kandang Liverpool

Bayern Terancam Tanpa Kingsley Coman Saat Lawan Liverpool

Presiden Bayern Munich Menyesal Pernah Batal Gaet Juergen Klopp

The post 5 Fakta Menarik Partai Manchester United vs PSG appeared first on Football5star Berita Bola.

Sihir Ole Bangkitkan Setan Merah

Football5star.com, Indonesia – Manchester United perlahan keluar dari tren buruk. Itu berkat kedatangan Ole Gunnar Solskjaer yang menggantikan Jose Mourinho di kursi manajer pada pertengahan Desember 2018.

Lima laga perdana di bawah kendali Solskjaer, Setan Merah berhasil menyapu bersih kemenangan. Paul Pogba dan kolega seolah keluar dari situasi buruk yang dialami ketika Mourinho masih melatih.

Dalam waktu singkat, Solskjaer berhasil mengangkat moral anak asuhnya. Manajer asal Norwegia tersebut membawa aura positif sejak tiba di Old Trafford.

Beda situasinya saat Mourinho masih memimpin Man. United. Dia tidak segan mengkritik keras pemainnya di media dan bahkan beberapa kali terlibat konflik dengan Pogba.

“Ole memiliki kepribadian yang menular kepada semua orang. Dia sangat positif dan selalu optimistis. Saya pikir Anda bisa melihat itu menular dan itu yang membuat kemampuan terbaik pemain keluar,” kata asisten manajer Man. United, Michael Carrick.

Terinspirasi Ferguson

Perubahan lain yang terlihat dari gaya bermain Man. United. Tak ada lagi permainan pragmatis yang kerap mengandalkan serangan balik dan umpan panjang seperti pada era Mourinho.

Terbukti, Man. United mampu melesakkan 16 gol sejak
Solskjaer duduk di kursi manajer. Statsitik menyerang mereka pun menunjukkan
tren yang lebih baik ketimbang pada era Mourinho.

Solskjaer mengaku terinspirasi dengan mantan manajer Man. United, Sir Alex Ferguson. Selain berusaha menjaga keutuhan skuat, dia pun gemar memainkan taktik ofensif. Persis dengan Ferguson yang menukangi Setan Merah selama lebih dari dua dekade.

Ferguson merupakan sosok yang sangat berpengaruh
bagi Solskjaer. Keduanya bekerja sama sebagai manajer dan anak didik selama
sembilan musim. Bahkan, Solskjaer juga banyak belajar dari pria asal Skotlandia
itu sebagai manajer ketika saat menjadi staf pelatih tim senior hingga arsitek
tim cadangan Setan Merah.

“Saya memang mendapat gaya manajerial dari Sir
Alex. Dia membawa pengaruh yang sangat besar bagi saya, tetapi kepribadian kami
berbeda,” ungkap Solskjaer, seperti dilansir Sky Sports. “Kami hanya ingin melihat semua orang mengekspresikan
diri. Itu yang membuat saya bahagia.”

Harapan Bagi Bintang Muda

Kedatangan Solskjaer juga mendongkrak motivasi para pemain muda Man. United. Di tangannya, Marcus Rashford, Anthony Martial, Luke Shaw dan Jesse Lingard lebih mendapat kepercayaan. Mereka pun membayarnya dengan tampil bagus dalam pertandingan.

“Seperti yang dikatakan Sir Matt (Busby), jika
bagus, mereka (pemain-pemain muda) sudah cukup dewasa. Kami harus
mempertahankan tradisi itu. Kami membutuhkan para pemain muda. Itu penting bagi
para pemain akademi bahwa saya melihat perkembangan para pemain,” jelas dia,
seperti dilansir Standard.

Beberapa hal tersebut menjadi kiat sukses Solskjaer
bersama Man. United. Tak heran apabila sejumlah pemain berharap manajemen klub
mempertahankan manajer asal Norwegia tersebut. Dukungan juga datang dari
beberapa rekan setimnya dulu.

“Secara personal, saya senang jika Ole mendapatkan pekerjaan itu (manajer Man. United). Orang membahas rekor dia di Cardiff. Bukan tidak menghormati, tetapi kita bicara dua klub yang berbeda,” kata David May, mantan bek Setan Merah.

Statistik Solskjaer vs Mourinho di Premier League 2018-19

                                                                Solskjaer               Mourinho

Main                                                      4                              17

Gol                                                          3,5                          1,7

Kebobolan                                            0,75                        1,7

Total Tembakan                                 15                           12,7

Tembakan Akurat                              8,5                          6

Total Tembakan Lawan                    10                           13,9

Tembakan Akurat Lawan                 2,8                          5,2

Ball Possession                                     67%                        53,2%

Operan                                                   661,3                      496,2
The post Sihir Ole Bangkitkan Setan Merah appeared first on Football5star Berita Bola.

FEATURE: 5 PR Besar Solskjaer di Manchester United

Football5star.com, Indonesia – Pergantian manajer akhirnya tak terhindarkan di Manchester United. Selasa (18/12/2018), Jose Mourinho resmi dilengserkan. Keesokan harinya, Ole Gunnar Solskjaer diangkat sebagai manajer caretaker. Mantan striker timnas Norwegia itu diberi tugas hingga akhir musim.
Meskipun hanya sebagai manajer sementara, tentu saja Solskjaer bukan hanya pengisi kekosongan. Dia pasti diharapkan mampu mengurai permasalahan yang ada di Manchester United selama ditangani Mourinho. Berikut ini, Football5Star.com menguraikan 5 pekerjaan rumah besar yang dihadapi pria yang semasa aktif dijuluki The Baby-faced Assasin itu.

1. Mengembalikan Harmoni di Kamar Ganti
futaa.com
Sudah bukan rahasia, selama musim ini, ruang ganti Manchester United tidak harmonis. Meskipun selalu ditutupi dan tak diakui, ada ketegangan di antara beberapa pemain dengan Mourinho. Secara spesifik, Paul Pogba dengan The Special One. Maklum, sang manajer kerap kali melontarkan pernyataan kontroversial soal sang pemain.
Tak pelak, tugas pertama dan utama Solskjaer adalah menyelesaikan hal tersebut. Harmoni harus kembali dirajut di dalam skuat sehingga kebersamaan dan saling percaya bisa tumbuh kembali. Ini akan menjadi dasar untuk membangkitkan Red Devils dari keterpurukan.

2. Menetapkan Skema Pasti
90min.de
Sepanjang musim ini, Jose Mourinho seolah tak punya susunan pemain yang pasti. Tak ada starting XI baku. Rotasi tak henti dilakukan. Di satu sisi, ini membuat lawan susah meraba kekuatan mereka. Namun, di sisi lain, ini membuat Manchester United tak punya sebuah skema dan susunan pemain andalan.
Guna membangkitkan Red Devils, Solskjaer mesti memastikan siapa pemain utama, siapa pemain cadangan. Ini sangat penting guna menumbuhkan kepercayaan diri para pemain, terutama para bintang utama Manchester United yang sangat labil pada musim ini.

3. Memperbaiki Pertahanan
itv.com
Gaya main Manchester United kerap jadi sasaran kritik semasa ditangani Jose Mourinho. Mereka kerap dituding tidak atraktif dan cenderung memainkan negative football. Namun, anehnya, pertahanan mereka begitu rapuh.
Dalam 17 laga yang telah dilakoni di Premier League musim ini, Red Devils telah kebobolan 29 gol. Itu hanya lebih baik dari Fulham (42), Burnley (33), Cardiff City (33), dan Southampton (32). Selain itu, Red Devils juga sangat jarang clean sheet. Sepanjang musim ini, mereka baru dua kali tak kebobolan. Itu hanya lebih baik dari Fulham.
Membenahi lini pertahanan menjadi hal penting karena seperti kata pepatah lama di sepak bola, pertahananlah yang membuat sebuah tim juara. Solskjaer harus bercermin ke Liverpool yang sejak musim lalu membenahi lini pertahanan dan mulai menunjukkan buahnya pada musim ini.

4. Membangkitkan Para Bintang
sport360.cm
Sepanjang musim ini, penurunan performa ditunjukkan hampir semua pemain Manchester United. Terutama para bintang yang sejatinya diharapkan menjadi pemimpin, teladan, dan pemutus kebuntuan di lapangan. Paul Pogba, Alexis Sanchez, Nemanja Matic, dan Romelu Lukaku adalah beberapa pilar kerap menjadi sorotan.
Menilik kelas dan kualitas para bintang yang ada, tak ada keraguan bahwa Red Devils akan dapat bangkit dan kembali ke habitatnya sebagai tim papan atas di Premier League andai para bintang yang ada selalu tampil konsisten dan dapat diandalkan setiap pekan. Tak ayal, Solskjaer wajib membangkitkan mereka.

5. Memperjelas Fungsi Pemain
standard.co.uk
Dalam skema permainan Jose Mourinho musim ini, beberapa pemain kerap tak memiliki peran jelas dan pasti. pemain yang paling disorot adalah Marcus Rashford. Pemain yang diorbitkan Louis van Gaal itu justru menurun sejak ditangani Mourinho.
Beberapa pengamat menilai Rashford jadi korban keserbabisaannya. Seiring kedatangan Romelu Lukaku dan Alexis Sanchez, dia tak pernah punya posisi yang pasti. Inilah yang ditengarai menurunkan ketajamannya. Hal serupa juga dialami Ander Herrera, Paul Pogba, dan Juan Mata di lini tengah.

More News on Liga Inggris

Xavi Kagumi Permainan Chelsea di Bawah Asuhan Sarri

Sane Geleng-Geleng Lihat Ketajaman Sterling

Pelatih Wolverhampton Senang Usai Dikalahkan Liverpool

The post FEATURE: 5 PR Besar Solskjaer di Manchester United appeared first on Football5star Berita Bola.

ANALISIS: Arsenal Sulit Clean Sheet di Old Trafford

Football5star.com, Indonesia – Arsenal akan melawat ke Stadion Old Trafford, kandang Manchester United, pada Kamis (6/12/2018) dini hari WIB. Anak-anak asuh Unai Emery punya bekal apik setelah menang 4-2 atas Tottenham Hotspur dan tak terkalahkan dalam 19 laga beruntun di berbagai ajang.
Akan tetapi, itu bukan berarti misi Arsenal di Old Trafford nanti akan ringan. Guna meneruskan tren tak terkalahkan, The Gunners harus menghadapi satu tantangan besar. Itu adalah gawang yang begitu mudah kebobolan.
standard.co.uk
Sepanjang musim ini, di Premier League, Arsenal baru mencatat dua kali clean sheet, yakni saat melawan Everton dan Watford pada 23 dan 29 September 2018. Kala menghadapi The Toffees, clean sheet dibukukan Petr Cech, sedangkan ketika meladeni The Hornets, clean sheet dibukukan bersama oleh Cech dan Bernd Leno.
Khusus Leno, selain 45 menit saat melawan Watford, gawangnya selalu kebobolan dalam tujuh pertandingan beruntun di Premier League. Terakhir, dua gol bersarang di gawang The Gunners kala menghadapi Tottenham. Dia takluk oleh tandukan Eric Dier dan penalti Harry Kane.
11 Lawatan Tanpa Clean Sheet
Ini bukan modal bagus. Pasalnya, Arsenal sangat sulit pulang dari Old Trafford tanpa kebobolan. Sejak 2009-10, selalu saja mereka pulang tanpa clean sheet. Dalam sembilan musim, The Gunners melakoni sebelas lawatan ke Old Trafford di berbagai ajang. Hasilnya, mereka kebobolan total 24 gol atau rata-rata sekitar dua gol per laga.
independent.co.uk
Catatan terburuk tentu saja pada lawatan musim 2011-12. Kala itu, Arsenal kalah dengan skor 2-8! Wayne Ronney mencetak hat-trick, Ashley Young membuat brace, sedangkan Danny Welbeck, Nani, dan Park Ji-sung sama-sama menjejalkan satu gol ke gawang The Gunners yang kala itu dikawal Wojciech Szczesny.
Misi pulang dari Old Trafford dengan clean sheet makin sulit mengingat rekor sangat buruk Leno saat menghadapi Manchester United. Dalam dua kesempatan sebelumnya saat masih bersama Bayer Leverkusen, gawang Leno selalu kebobolan setidaknya empat gol.
Itu terjadi pada fase grup Liga Champions 2012-13. Di Old Trafford, kiper yang kini diandalkan Arsenal itu dibobol empat kali yang membuat Leverkusen takluk 2-4. Di kandang sendiri, BayArena, catatan yang dibuat Leno lebih buruk, Gawangnya jebol lima kali dan Die Werkself kalah 0-5.

More News on Liga Inggris

Guardiola Percaya Sterling Bisa Lebih Baik Lagi

Chelsea Perpanjang Masa Bakti Azpilicueta Hingga 2022

Manchester City Terancam Tak Ikut Liga Champions

The post ANALISIS: Arsenal Sulit Clean Sheet di Old Trafford appeared first on Football5star Berita Bola.

ANALISIS: Kans Man. United Menang di Stadion Allianz Hanya 4,76 Persen

Football5star.com, Indonesia – Laga besar nan sulit yang harus dimenangi tapi tidak terlalu menentukan. Begitulah kira-kira resume omongan Jose Mourinho, manajer Manchester United, jelang laga matchday IV Liga Champions di Stadion Allianz, kandang Juventus.
Sekilas, terkesan ada nada pasrah dari omongan Mourinho tersebut. Namun, itu kiranya tidaklah berlebihan. Menang di Stadion Allianz bukanlah perkara mudah bagi Manchester United. Memang benar, Real Madrid musim lalu sempat berpesta 3-0 di sana, tapi itu adalah satu dari hanya sedikit kekalahan yang diderita Juventus sejak bermarkas di sana pada 2011.
reuters.com
Mengalahkan Juventus di Stadion Allianz tak ubahnya misi yang hampir mustahil, sungguh sangat sulit. Total, dari 189 laga yang telah dilakoni La Vecchia Signora di sana, hanya ada sembilan kekalahan. Artinya, kans Manchester United untuk merebut tiga poin di kandang Juventus tersebut hanya 4,76 persen. Adapun kans imbang pun 16,4 persen saja.
Khusus di Liga Champions, Juventus baru dua kali kalah di Stadion Allianz. Selain dari Madrid pada musim lalu, kekalahan lain didapatkan dari Bayern Munich pada musim 2012-13. Kala itu, Bayern menang 2-0. Sisanya, I Bianconeri membukukan 18 kemenangan dan 10 hasil imbang.
Hal lain yang membuat misi Manchester United di Stadion Allianz bertambah berat adalah rekor buruk klub-klub Inggris di sana. belum ada yang berhasil menang di sana. Chelsea dihajar 3-0 pada 2012, Manchester City ditekuk 1-0 pada 2015, dan Tottenham Hotspur hanya imbang 2-2 pada musim lalu.
Akan tetapi, seperti kata pepatah, tak ada yang mustahil. Lalu, akan selalu ada yang pertama. Begitu pula dengan Manchester United untuk jadi tim Inggris pertama yang menang di Stadion Allianz. Satu hal yang pasti, seperti juga diyakini Mourinho, itu akan sangat sulit dan butuh kerja mahakeras.

The post ANALISIS: Kans Man. United Menang di Stadion Allianz Hanya 4,76 Persen appeared first on Football5star Berita Bola.

Rapor Merah Ronaldo Lawan Mourinho

Football5star.com, Indonesia – Cristiano Ronaldo akan bereuni dengan Jose Mourinho pada laga Manchester United vs Juventus pada laga Grup H Liga Champions di Old Trafford, Selasa (23/10/2018).
Ronaldo yang kini berkostum I Bianconeri pernah menjadi anak asuh Mourinho di Real Madrid pada 2010-2013. Mereka membawa El Real meraih sejumlah prestasi, seperti satu trofi La Liga, satu Copa del Rey dan satu Piala Super Spanyol.
Keduanya akhirnya bertemu untuk pertama kalinya pada laga Manchester United vs Juventus sejak Mourinho angkat kaki dari Bernabeu. Sejak musim 2016-17, pria asal Portugal tersebut menjabat sebagai manajer Setan Merah.
Sepanjang kariernya, Ronaldo pernah bertemu dengan Mourinho di beberapa klub yang berbeda. Pemain berusia 33 tahun tersebut punya catatan buruk ketika menghadapi klub besutan manajer asal Portugal tersebut.
Total ada 14 pertemuan antara klub Ronaldo dan anak-anak asuh Mourinho. CR7 hanya meraih tiga kemenangan dan menelan tujuh kemenangan.
(Selanjutnya: Rapor merah Cristiano Ronaldo vs Jose Mourinho)
The post Rapor Merah Ronaldo Lawan Mourinho appeared first on Football5star Berita Bola.

KOLOM: Polemik Mourinho dan Kisah Es Krim Kerucut

Football5star.com, Indonesia – Konflik internal Manchester United tidak kunjung mereda. Imbasnya, pasukan Jose Mourinho menelan serangkaian hasil mengecewakan.
Man. United melorot ke posisi ke-10 klasemen sementara Premier League. Penyebabnya adalah kekalahan 1-3 saat menghadapi West Ham United di London Stadium, Sabtu (29/9/2018).
Setan Merah baru mengoleksi 10 angka pada musim 2018-19. Itu menyamai catatan terburuknya sepanjang Premier League ketika di bawah asuhan David Moyes pada musim 2013-14.
Awal polemik muncul pada pramusim. Mourinho berulang kali mengkritik performa anak-anak asuhnya, seperti Anthony Martial, Paul Pogba hingga terakhir Alexis Sanchez.
Perdebatan Jose Mourinho dengan Paul Pogba di pinggir lapangan. Foto: Zimbio
Hubungan Mourinho dan direktur klub Ed Woodward memburuk. Manajer asal Portugal tersebut kesal lantaran tidak mendapat pemain baru sesuai harapan pada musim panas lalu.
Kegaduhan bertambah setelah Mourinho terlibat friksi dengan Pogba dalam sesi latihan belum lama ini. Gelandang Prancis tersebut tidak lagi mendapat kepercayaan untuk memakai ban kapten.

Kisah Es Krim Kerucut
George Bang kebakaran jenggot saat kios es krimnya, Creamery Banner, banjir pesanan dari pelanggan di St Louis Worlds Fair, Missouri, pada 1904.
Semua mangkuk es krim berada dalam keadaan kotor. Para calon pembeli satu per satu angkat kaki lantaran terlalu lama menunggu wadah penyaji dicuci.
Ernest Hamwi, penjual kue wafer di sebelah Creamery Banner, mendatangi Bang dengan ide brilian. Dia memberi solusi untuk mengganti wadah mangkuk dengan wafer dagangannya.
Setelah mendapat persetujuan, Hamwi membuatkan wafer berbentuk corong untuk dijadikan wadah penyaji es krim Creamery Banner. Inovasi tersebut rupanya cocok dengan selera pembeli.
Tidak hanya lebih praktis dibanding mangkuk. Wafer renyah berbentuk kerucut bisa dimakan oleh para pembeli.
Sinergi antara barang dagangan Bang dan Hamwi menghadirkan solusi jitu. Sebuah inovasi yang membuat es krim kerucut mulai naik daun sejak saat itu.
Man. United sejatinya bisa memetik hikmah dari kisah es krim kerucut dalam menyikapi polemik masalah internal yang tengah terjadi pada musim ini.
Hubungan Jose Mourinho dan direktur Man. United, Ed Woodward, memburuk pada musim ini. Foto: Daily Star
Tidak ada jalan lain bagi Setan Merah. Segala masalah yang terjadi mustahil mereda jika semua pihak terkait tidak duduk bersama untuk mencari solusi terbaik dan menjalankannya.
Dalam kelompok atau organisasi apa pun, termasuk klub sepak bola, masalah tidak akan usai tanpa adanya sinergi. Mengedepankan ego masing-masing hanya memperkeruh suasana.
Itulah masalah terbesar Manchester United di bawah asuhan Jose Mourinho musim ini. Pamor Setan Merah sebagai salah satu klub berprestasi di dunia terancam terus memudar.
The post KOLOM: Polemik Mourinho dan Kisah Es Krim Kerucut appeared first on Football5star Berita Bola.

5 Fakta Menarik Pekan Ke-7 Premier League 2018-19

Football5star.com, Indonesia – Pertarungan dua klub raksasa, yaitu Chelsea dan Liverpool, menghiasi pekan ketujuh Premier League 2018-19 yang bergulir pada 29 September hingga 1 Oktober lalu.
Laga yang berlangsung di Stamford Bridge itu berakhir imbang 1-1. Tuan rumah unggul lebih dulu lewat Edin Hazard (25′) sebelum The Reds menyamakan skor berkat lesakan Daniel Sturridge (89′).
Manchester City mengambil keuntungan dari hasil imbang dua rivalnya tersebut. The Citizens mengambil alih puncak klasemen berkat kemenangan 2-0 atas Brighton & Hove Albion di Etihad Stadium.
Berbeda dengan rival sekotanya, Manchester United justru kembali menelan hasil negatif. Setan Merah tumbang dengan skor 1-3 di markas West Ham United, London Stadium.
Geliat Wolverhampton Wanderers sebagai klub promosi menunjukkan tren positif. Pasukan Nuno Espirito Santo menekuk Southampton dua gol tanpa balas di Molineux Stadium.
Berikut ini 5 fakta menarik pekan ketujuh Premier League musim 2018-19:

Ketajaman Hazard

Eden Hazard sumbang gol bagi Chelsea ke gawang Liverpool. Foto: ghanasoccernet.com
Hazard kembali menunjukkan kualitasnya. Gelandang timnas Belgia itu kerap kali merepotkan lini belakang Liverpool sebelum akhirnya mampu menaklukkan Alisson Becker.
Sampai pekan ke-7, Hazard memuncaki daftar pencetak gol terbanyak Premier League dengan enam gol. Dia mencatatkan itu hanya dari delapan tendangan ke gawang.

Senjata Rahasia Klopp

Juergen Klopp peluk Daniel Sturridge setelah laga versus Chelsea usai. Foto: Daily Mail
Juergen Klopp patut berterima kasih kepada Sturridge. Berkat gol bomber asal Inggris itu, Liverpool membawa pulang satu poin dari Stamford Bridge.
Sturridge baru masuk ke lapangan untuk menggantikan James Milner pada menit ke-86. Tiga menit kemudian, dia membobol gawang Kepa Arrizabalaga dengan tendangan jarak jauh.
Menurut catatan Opta, Sturridge mencetak gol terbanyak kedua di Premier League sebagai pemain pengganti sejak melakoni debut pada Februari 2007. Dia hanya kalah dua gol dari Olivier Giroud.
Sturridge pun menjadi pemain ketujuh yang mampu mencetak 50 gol atau lebih bagi Liverpool di Premier League. Sebelumnya, itu pernah dilakukan oleh Robbie Fowler, Steven Gerrard, Michael Owen, Luis Suarez, Fernando Torres dan Dirk Kuyt.
The post 5 Fakta Menarik Pekan Ke-7 Premier League 2018-19 appeared first on Football5star Berita Bola.

Mourinho dan Sindrom Musim Ketiga yang Berakhir Pemecatan

Football5star.com, Indonesia – Fans mana yang tidak berbunga-bunga hatinya jika mendengar tim kesayangannya akan dilatih oleh seorang Jose Mourinho. Dia sudah membuktikan tidak ada klub yang tidak akan juara jika sudah ia tangani. Namun, selayaknya manusia biasa, Mourinho juga bukan pelatih yang sempurna.
Selama karier melatihnya, Mourinho sudah mempersembahkan dua Liga Champions, delapan gelar liga, serta 15 trofi Piala Liga. Tapi semua piala prestisius itu diraih pelatih yang akrab disapa Mou itu di dua musim perdananya menjadi nahkoda. Ya, selama ini Mourinho dikenal mempunyai satu penyakit akut bernama sindrom musim ketiga.
Keberadaan Mourinho di Chelsea dan Real Madrid selalu berakhir pada ketok palu pemilik klub, sekali pun di musim sebelumnya dia berhasil mempersembahkan gelar. Tentu masa indahnya di Inter dan Porto menjadi pengecualian karena ia lebih dulu memutuskan hengkang usai meraih treble winner.
todofutebol.com
Kini Mourinho seolah ingin mengulang cerita serupa. Pasalnya Manchester United yang ia latih sekarang tak ubahnya Chelsea dan Madrid yang ia tangani di tahun ketiganya.
Hasil buruk menjadi alasan utama. Setan Merah dibekap West Ham United 1-3 di London Stadium. Kekalahan ini kian mengikis kepercayaan fans United yang tiga hari sebelumnya sudah harus menanggung malu usai dipecundangi Derby County di ajang Carabao Cup.

Persentase Kemenangan yang Terus Merosot
Pada faktanya, performa buruk Setan Merah musim ini sebenarnya sudah lazim terjadi dalam karier manajerial Mourinho. Menurut data yang dikutip Football5star.com dari BBC, persentase kemenangan The Special One selalu merosot tajam di musim ketiga.
Musim ketiganya bersama Porto, Mourinho hanya meraup persentase sebesar 73,5 persen kemenangan. Angka ini menurun dari musim sebelumnya dengan 79,4 persen. Hal serupa juga terjadi pada era pertamanya membangun Chelsea.
Angka statis 76,3 persen yang didapat pada dua musim awal langsung jeblok ketika memasuk musim ketiga. Ia hanya mengantongi 63,2 persen kemenangan. Setali tiga uang dengan Chelsea, raksasa Spanyol, Real Madrid, juga merasakan sindrom pelatih 55 tahun itu.
mirror.co.uk
Sukses meraih 100 poin dan 84, 2 persentase kemenangan di musim keduanya, Mourinho hanya mampu membawa Los Blancos jadi penghuni kedua LaLiga dan tertinggal 13 angka dari Barcelona sebegai juara musim 2012-2013. Persentase kemenangannya pun jeblok ke angka 68,4 persen.
Merajalela ke Italia dan Spanyol pada akhirnya membawa Mourinho “pulang” ke London pada Juli 2013. Sukses meraih trofi Premier League di musim kedua, bulan madu pria kelahiran Setubal di musim ketiga lagi-lagi harus ditentukan oleh “tangan besi” pemilik klub, Roman Abramovich.
Mourinho hanya mengoleksi 25 persen kemenangan dari 16 pertandingan pada musim 2015-2016. Ia pun harus rela dipecat Chelsea, lagi-lagi sebelum pergantian tahun.
Jika dilihat dari performa MU musim ini, Mourinho seolah ingin mencetak hat-trick nasib dipecat sebelum tahun baru. Bagaimana tidak, ia baru mengoleksi tiga kemenangan dari tujuh laga Liga Inggris dan menjadikan ini sebagai start terburuk Setan Merah di era Premier League.

Mourinho dan Masalah dengan Pemain
Menariknya, pemecatan yang dialami pelatih yang beristrikan wanita asal Angola itu diwarnai satu kasus yang sama. Ia selalu terlibat konflik dengan pemain dan manajemen tim jelang dipecat. Bersama Chelsea edisi pertama, ia terlibat perang dingin dengan Abramovich yang enggan mengeluarkan banyak uang di jendela transfer.
Apa yang kemudian dilakukan Mourinho di Madrid justru lebih gila lagi. Ia memangkas waktu bermain ikon klub, Iker Casillas, secara drastis. Bahkan keputusan ini berdampak masif karena melibatkan pemain lain seperti Sergio Ramos, Pepe, dan Raphael Varane.
Setelah itu giliran skuat Chelsea yang dibuat gaduh. Seakan tak puas hanya bermasalah dengan Abramovich di era pertamanya, Mourinho menyalakan api permusuhan pada pemain dan staf medis.
citizentv.com
Tidak main-main, Eden Hazard menjadi sasaran kejengkelan Mou kali itu. Sang pemain juga tidak menampik pertengkaran keduanya. Bahkan saat Chelsea bertemu MU musim lalu, Hazard masih enggan menjabat tangan mantan pelatihnya itu.
Hazard bukan satu-satunya orang di tubuh The Blues yang geram dengan Mourinho. Staff medis tim, Eva Carneiro, juga menjadi musuh abadi pelatih yang kerap melontarkan komentar kontroversial ini.
Usai mengobati Hazard yang terjatuh di lapangan. Eva justru dihadang kritik oleh Mourinho di pinggir lapangan. Bola panas perseteruan keduanya membuat sang manajer membekukan status Eva di tim selama beberapa pekan. Pada akhirnya, wanita asal Portugal itu pun meninggalkan Stamford Bridge.

Mulai dari Ed Woodward Hingga Paul Pogba
Pelatih bernama lengkap Jose Mario dos Santos Felix Mourinho kemudian memulai musim 2018-2019 dengan gusar. Ia menyerang manajemen United yang tidak mampu mendatangkan pemain yang diinginkan pada musim panas.
Belum selesai masalahnya dengan manajemen, dalam hal ini Chief Executive, Ed Woodward, Mourinho kembali menyalakan api permusuhan dengan Pogba. Sempat mengatakan tidak akan memercayakan ban kapten pada sang gelandang, ia kemudian menyambut bintangnya itu dengan dingin di sesi latihan jelang lawan West Ham.
zimbio.com
Puncak permasalahan keduanya pun terjadi di laga kontra West Ham. Kekalahan 3-1 United kian terasa pedas saat Mourinho menarik keluar Pogba. Gelandang asal Prancis itu memang menjabat tangan sang manajer di pinggir lapangan, tapi terlihat jelas raut kekecewaan dan amarah yang terus menumpuk dalam benaknya.
Berdasarkan masalah yang terus diulang dan “hukum” sepak bola yang selalu mengulang sejarah, bukan tidak mungkin sindrom musim ketiga Mourinho berlanjut pada musim ini bersama Setan Merah. Apalagi hanya di Old Trafford lah “Si Mulut Besar” gagal mempersembahkan gelar liga domestik.

More News on Liga Inggris

GALERI: Gol Spektakuler Sturridge Pupus Asa Chelsea

Deschamps: Pogba Tak Bisa Kerja Sendirian

Gol Terbaik Aguero di Mata Legenda Manchester City

 
The post Mourinho dan Sindrom Musim Ketiga yang Berakhir Pemecatan appeared first on Football5star Berita Bola.

Senjata Makan Tuan Bagi Mourinho

Football5star.com, Indonesia – Peribahasa senjata makan tuan tepat untuk menggambarkan apa yang baru dialami manajer Manchester United, Jose Mourinho.
Dua pertandingan terakhir berujung kekecewaan bagi Man. United. Padahal laskar Mourinho tampil di Old Trafford.
Man. United imbang 1-1 saat menjamu Wolverhampton Wanderers pada pekan keenam Premier League, Sabtu (22/9/2018).
Hanya tiga hari berselang, Setan Merah kalah dari Derby County lewat drama adu penalti di babak ketiga Piala Liga Inggris.
Ironisnya, manajer dua klub tadi adalah bekas anak didik Mourinho. Mereka adalah Nuno Espirito Santo (Wolves) dan Frank Lampard (Derby).
Ketika menjadi pemain profesional, Santo lebih banyak menghabiskan waktunya di kursi cadangan dibanding lapangan hijau. Itu justru menjadi pengalaman berharga baginya.
“Saya mengamati laga dari tempat terbaik. Saya melihat ruang, jarang dan pengambilan keputusan para pemain dengan lebih baik,” tutur dia.
Santo tidak pernah dimainkan Mourinho saat membela FC Porto pada 2002-2004. Namun, dia tetap menaruh respek yang besar kepada mantan pelatihnya tersebut.
Nuno Espirito Santo pernah jadi anak asuh Jose Mourinho di FC Porto pada 2002-2004. Foto: The Football League Paper
“Mourinho membawa Porto menjuarai Liga Champions (2003-04) meski tidak punya pemain-pemain kelas dunia,” kenangnya. “Saya sangat memperhatikan saat dia berbicara. Dia berperan besar dalam karier saya.”
Nasib Lampard jauh lebih beruntung ketimbang Santo. Dia merupakan salah satu pemain kesayangan Mourinho selama menukangi Chelsea.
Lampard punya pengalaman yang tidak terlupakan soal Mourinho. Itu terjadi ketika The Special One tiba di Stamford Bridge setelah ditunjuk sebagai manajer The Blues pada 2004.
“Dia mengatakan bahwa saya adalah pemain terbaik dunia,” kata Lampard. Uniknya, percakapan itu terjadi ketika mantan kapten Chelsea tersebut sedang mandi di ruang ganti.
Frank Lampard pada era pertama kepemimpinan Jose Mourinho di kursi manajer Chelsea. Foto: Premier League
Saat itu, Lampard belum menjadi pemain yang punya peran vital bagi Chelsea. Namun, di bawah asuhan Mourinho, dia berkembang pesat hingga menjadi legenda klub asal London tersebut.
Lihat saja pencapaian pria berumur 40 tahun itu. Hingga kini, dia tercatat sebagai pengoleksi penampilan terbanyak keempat (648 gol) dan tersubur (211 gol) dalam sejarah The Blues.
Selain itu, Lampard masuk daftar nomine peraih penghargaan Pemain Terbaik FIFA 2005 bersama Ronaldinho Gaucho dan Samuel Eto’o. Dia finis di posisi kedua.
Hubungan baik antara keduanya tidak sebatas di lapangan hijau, tetapi dalam kehidupan pribadi. “Kami baru saja kembali berkomunikasi melalui telepon, tetapi itu terkait keluarga. Kami hanya membahas anak perempuan saya, bukan pertandingan,” ungkap Lampard sebelum bertandang ke Old Trafford.
Jose Mourinho berhadapan dengan Frank Lampard saat Manchester United vs Derby County. Foto: The Independent
Sebelum bertemu beberapa waktu lalu, Mourinho sempat melayangkan pujian kepada Santo dan Lampard. Dia tentu senang dua mantan muridnya mengikuti jejaknya sebagai manajer.
Di sisi lain, apa yang dia ajarkan menjadi bumberang bagi dirinya sendiri setelah Man. United ditahan Wolves dan kalah dari Derby.
Ini juga menjadi momentum bagi Mourinho untuk mengevaluasi diri. Selama terjun ke dunia pelatih, dia dikenal sebagai manajer dengan pendekatan taktik yang pragmatis.
Berbeda dengan Sir Alex Ferguson yang menangani Setan Merah selama lebih dari dua dekade. Seiring berjalannya waktu, pria asal Skotlandia itu selalu berupaya beradaptasi.
Padahal Ferguson pernah kehilangan beberapa pemain bintang, seperti David Beckham dan Cristiano Ronaldo. Kekuatan klub-klub lain pun terus meningkat, tetapi dia terus meraih prestasi secara konsisten.
Pesan dari Paul Pogba, salah satu pemain andalan Man. United, sejatinya bisa menjadi bahan renungan bagi The Special One.
“Saat bermain di kandang, Anda seharusnya menyerang. Ini adalah Old Trafford. Kami di sini untuk menyerang,” ucapnya, setelah laga melawan Wolves usai.
The post Senjata Makan Tuan Bagi Mourinho appeared first on Football5star Berita Bola.