ANALISIS: Arsenal Sulit Clean Sheet di Old Trafford

Football5star.com, Indonesia – Arsenal akan melawat ke Stadion Old Trafford, kandang Manchester United, pada Kamis (6/12/2018) dini hari WIB. Anak-anak asuh Unai Emery punya bekal apik setelah menang 4-2 atas Tottenham Hotspur dan tak terkalahkan dalam 19 laga beruntun di berbagai ajang.
Akan tetapi, itu bukan berarti misi Arsenal di Old Trafford nanti akan ringan. Guna meneruskan tren tak terkalahkan, The Gunners harus menghadapi satu tantangan besar. Itu adalah gawang yang begitu mudah kebobolan.
standard.co.uk
Sepanjang musim ini, di Premier League, Arsenal baru mencatat dua kali clean sheet, yakni saat melawan Everton dan Watford pada 23 dan 29 September 2018. Kala menghadapi The Toffees, clean sheet dibukukan Petr Cech, sedangkan ketika meladeni The Hornets, clean sheet dibukukan bersama oleh Cech dan Bernd Leno.
Khusus Leno, selain 45 menit saat melawan Watford, gawangnya selalu kebobolan dalam tujuh pertandingan beruntun di Premier League. Terakhir, dua gol bersarang di gawang The Gunners kala menghadapi Tottenham. Dia takluk oleh tandukan Eric Dier dan penalti Harry Kane.
11 Lawatan Tanpa Clean Sheet
Ini bukan modal bagus. Pasalnya, Arsenal sangat sulit pulang dari Old Trafford tanpa kebobolan. Sejak 2009-10, selalu saja mereka pulang tanpa clean sheet. Dalam sembilan musim, The Gunners melakoni sebelas lawatan ke Old Trafford di berbagai ajang. Hasilnya, mereka kebobolan total 24 gol atau rata-rata sekitar dua gol per laga.
independent.co.uk
Catatan terburuk tentu saja pada lawatan musim 2011-12. Kala itu, Arsenal kalah dengan skor 2-8! Wayne Ronney mencetak hat-trick, Ashley Young membuat brace, sedangkan Danny Welbeck, Nani, dan Park Ji-sung sama-sama menjejalkan satu gol ke gawang The Gunners yang kala itu dikawal Wojciech Szczesny.
Misi pulang dari Old Trafford dengan clean sheet makin sulit mengingat rekor sangat buruk Leno saat menghadapi Manchester United. Dalam dua kesempatan sebelumnya saat masih bersama Bayer Leverkusen, gawang Leno selalu kebobolan setidaknya empat gol.
Itu terjadi pada fase grup Liga Champions 2012-13. Di Old Trafford, kiper yang kini diandalkan Arsenal itu dibobol empat kali yang membuat Leverkusen takluk 2-4. Di kandang sendiri, BayArena, catatan yang dibuat Leno lebih buruk, Gawangnya jebol lima kali dan Die Werkself kalah 0-5.

More News on Liga Inggris

Guardiola Percaya Sterling Bisa Lebih Baik Lagi

Chelsea Perpanjang Masa Bakti Azpilicueta Hingga 2022

Manchester City Terancam Tak Ikut Liga Champions

The post ANALISIS: Arsenal Sulit Clean Sheet di Old Trafford appeared first on Football5star Berita Bola.

ANALISIS: Kans Man. United Menang di Stadion Allianz Hanya 4,76 Persen

Football5star.com, Indonesia – Laga besar nan sulit yang harus dimenangi tapi tidak terlalu menentukan. Begitulah kira-kira resume omongan Jose Mourinho, manajer Manchester United, jelang laga matchday IV Liga Champions di Stadion Allianz, kandang Juventus.
Sekilas, terkesan ada nada pasrah dari omongan Mourinho tersebut. Namun, itu kiranya tidaklah berlebihan. Menang di Stadion Allianz bukanlah perkara mudah bagi Manchester United. Memang benar, Real Madrid musim lalu sempat berpesta 3-0 di sana, tapi itu adalah satu dari hanya sedikit kekalahan yang diderita Juventus sejak bermarkas di sana pada 2011.
reuters.com
Mengalahkan Juventus di Stadion Allianz tak ubahnya misi yang hampir mustahil, sungguh sangat sulit. Total, dari 189 laga yang telah dilakoni La Vecchia Signora di sana, hanya ada sembilan kekalahan. Artinya, kans Manchester United untuk merebut tiga poin di kandang Juventus tersebut hanya 4,76 persen. Adapun kans imbang pun 16,4 persen saja.
Khusus di Liga Champions, Juventus baru dua kali kalah di Stadion Allianz. Selain dari Madrid pada musim lalu, kekalahan lain didapatkan dari Bayern Munich pada musim 2012-13. Kala itu, Bayern menang 2-0. Sisanya, I Bianconeri membukukan 18 kemenangan dan 10 hasil imbang.
Hal lain yang membuat misi Manchester United di Stadion Allianz bertambah berat adalah rekor buruk klub-klub Inggris di sana. belum ada yang berhasil menang di sana. Chelsea dihajar 3-0 pada 2012, Manchester City ditekuk 1-0 pada 2015, dan Tottenham Hotspur hanya imbang 2-2 pada musim lalu.
Akan tetapi, seperti kata pepatah, tak ada yang mustahil. Lalu, akan selalu ada yang pertama. Begitu pula dengan Manchester United untuk jadi tim Inggris pertama yang menang di Stadion Allianz. Satu hal yang pasti, seperti juga diyakini Mourinho, itu akan sangat sulit dan butuh kerja mahakeras.

The post ANALISIS: Kans Man. United Menang di Stadion Allianz Hanya 4,76 Persen appeared first on Football5star Berita Bola.

Mourinho dan Sindrom Musim Ketiga yang Berakhir Pemecatan

Football5star.com, Indonesia – Fans mana yang tidak berbunga-bunga hatinya jika mendengar tim kesayangannya akan dilatih oleh seorang Jose Mourinho. Dia sudah membuktikan tidak ada klub yang tidak akan juara jika sudah ia tangani. Namun, selayaknya manusia biasa, Mourinho juga bukan pelatih yang sempurna.
Selama karier melatihnya, Mourinho sudah mempersembahkan dua Liga Champions, delapan gelar liga, serta 15 trofi Piala Liga. Tapi semua piala prestisius itu diraih pelatih yang akrab disapa Mou itu di dua musim perdananya menjadi nahkoda. Ya, selama ini Mourinho dikenal mempunyai satu penyakit akut bernama sindrom musim ketiga.
Keberadaan Mourinho di Chelsea dan Real Madrid selalu berakhir pada ketok palu pemilik klub, sekali pun di musim sebelumnya dia berhasil mempersembahkan gelar. Tentu masa indahnya di Inter dan Porto menjadi pengecualian karena ia lebih dulu memutuskan hengkang usai meraih treble winner.
todofutebol.com
Kini Mourinho seolah ingin mengulang cerita serupa. Pasalnya Manchester United yang ia latih sekarang tak ubahnya Chelsea dan Madrid yang ia tangani di tahun ketiganya.
Hasil buruk menjadi alasan utama. Setan Merah dibekap West Ham United 1-3 di London Stadium. Kekalahan ini kian mengikis kepercayaan fans United yang tiga hari sebelumnya sudah harus menanggung malu usai dipecundangi Derby County di ajang Carabao Cup.

Persentase Kemenangan yang Terus Merosot
Pada faktanya, performa buruk Setan Merah musim ini sebenarnya sudah lazim terjadi dalam karier manajerial Mourinho. Menurut data yang dikutip Football5star.com dari BBC, persentase kemenangan The Special One selalu merosot tajam di musim ketiga.
Musim ketiganya bersama Porto, Mourinho hanya meraup persentase sebesar 73,5 persen kemenangan. Angka ini menurun dari musim sebelumnya dengan 79,4 persen. Hal serupa juga terjadi pada era pertamanya membangun Chelsea.
Angka statis 76,3 persen yang didapat pada dua musim awal langsung jeblok ketika memasuk musim ketiga. Ia hanya mengantongi 63,2 persen kemenangan. Setali tiga uang dengan Chelsea, raksasa Spanyol, Real Madrid, juga merasakan sindrom pelatih 55 tahun itu.
mirror.co.uk
Sukses meraih 100 poin dan 84, 2 persentase kemenangan di musim keduanya, Mourinho hanya mampu membawa Los Blancos jadi penghuni kedua LaLiga dan tertinggal 13 angka dari Barcelona sebegai juara musim 2012-2013. Persentase kemenangannya pun jeblok ke angka 68,4 persen.
Merajalela ke Italia dan Spanyol pada akhirnya membawa Mourinho “pulang” ke London pada Juli 2013. Sukses meraih trofi Premier League di musim kedua, bulan madu pria kelahiran Setubal di musim ketiga lagi-lagi harus ditentukan oleh “tangan besi” pemilik klub, Roman Abramovich.
Mourinho hanya mengoleksi 25 persen kemenangan dari 16 pertandingan pada musim 2015-2016. Ia pun harus rela dipecat Chelsea, lagi-lagi sebelum pergantian tahun.
Jika dilihat dari performa MU musim ini, Mourinho seolah ingin mencetak hat-trick nasib dipecat sebelum tahun baru. Bagaimana tidak, ia baru mengoleksi tiga kemenangan dari tujuh laga Liga Inggris dan menjadikan ini sebagai start terburuk Setan Merah di era Premier League.

Mourinho dan Masalah dengan Pemain
Menariknya, pemecatan yang dialami pelatih yang beristrikan wanita asal Angola itu diwarnai satu kasus yang sama. Ia selalu terlibat konflik dengan pemain dan manajemen tim jelang dipecat. Bersama Chelsea edisi pertama, ia terlibat perang dingin dengan Abramovich yang enggan mengeluarkan banyak uang di jendela transfer.
Apa yang kemudian dilakukan Mourinho di Madrid justru lebih gila lagi. Ia memangkas waktu bermain ikon klub, Iker Casillas, secara drastis. Bahkan keputusan ini berdampak masif karena melibatkan pemain lain seperti Sergio Ramos, Pepe, dan Raphael Varane.
Setelah itu giliran skuat Chelsea yang dibuat gaduh. Seakan tak puas hanya bermasalah dengan Abramovich di era pertamanya, Mourinho menyalakan api permusuhan pada pemain dan staf medis.
citizentv.com
Tidak main-main, Eden Hazard menjadi sasaran kejengkelan Mou kali itu. Sang pemain juga tidak menampik pertengkaran keduanya. Bahkan saat Chelsea bertemu MU musim lalu, Hazard masih enggan menjabat tangan mantan pelatihnya itu.
Hazard bukan satu-satunya orang di tubuh The Blues yang geram dengan Mourinho. Staff medis tim, Eva Carneiro, juga menjadi musuh abadi pelatih yang kerap melontarkan komentar kontroversial ini.
Usai mengobati Hazard yang terjatuh di lapangan. Eva justru dihadang kritik oleh Mourinho di pinggir lapangan. Bola panas perseteruan keduanya membuat sang manajer membekukan status Eva di tim selama beberapa pekan. Pada akhirnya, wanita asal Portugal itu pun meninggalkan Stamford Bridge.

Mulai dari Ed Woodward Hingga Paul Pogba
Pelatih bernama lengkap Jose Mario dos Santos Felix Mourinho kemudian memulai musim 2018-2019 dengan gusar. Ia menyerang manajemen United yang tidak mampu mendatangkan pemain yang diinginkan pada musim panas.
Belum selesai masalahnya dengan manajemen, dalam hal ini Chief Executive, Ed Woodward, Mourinho kembali menyalakan api permusuhan dengan Pogba. Sempat mengatakan tidak akan memercayakan ban kapten pada sang gelandang, ia kemudian menyambut bintangnya itu dengan dingin di sesi latihan jelang lawan West Ham.
zimbio.com
Puncak permasalahan keduanya pun terjadi di laga kontra West Ham. Kekalahan 3-1 United kian terasa pedas saat Mourinho menarik keluar Pogba. Gelandang asal Prancis itu memang menjabat tangan sang manajer di pinggir lapangan, tapi terlihat jelas raut kekecewaan dan amarah yang terus menumpuk dalam benaknya.
Berdasarkan masalah yang terus diulang dan “hukum” sepak bola yang selalu mengulang sejarah, bukan tidak mungkin sindrom musim ketiga Mourinho berlanjut pada musim ini bersama Setan Merah. Apalagi hanya di Old Trafford lah “Si Mulut Besar” gagal mempersembahkan gelar liga domestik.

More News on Liga Inggris

GALERI: Gol Spektakuler Sturridge Pupus Asa Chelsea

Deschamps: Pogba Tak Bisa Kerja Sendirian

Gol Terbaik Aguero di Mata Legenda Manchester City

 
The post Mourinho dan Sindrom Musim Ketiga yang Berakhir Pemecatan appeared first on Football5star Berita Bola.