Jurgen Klopp dan Rekor Sial di Final Liga Champions

Gilabola.com – Manajer Liverpool Jurgen Klopp menanggapi rekor sial di final Liga Champions timnya melawan Tottenham Hotspur.
Ketika memimpin Borussia Dortmund sebelum ia bergabung dengan Liverpool pada 2015, Jurgen Klopp telah kalah setidaknya di satu laga final dalam enam dari tujuh musim sebelumnya.
Kekalahan terakhir ketika Liverpool kalah dari Real Madrid di final Liga Champions tahun lalu (3-1), tetapi ada harapan yang lebih besar bagi runner-up Liga Premier saat mereka akan melawan Tottenham Hotspur yang relatif tidak berpengalaman di ajang Liga Champions.
“Jika saya akan menjadi alasan untuk kalah enam final berturut-turut, maka semua orang perlu khawatir. Jadi itu bukan masalahnya maka kita tidak perlu khawatir akan selalu memiliki peluang dan itulah bagaimana kita melihatnya sebenarnya,” kata Jurgen Klopp saat jumpa pers pada hari Jumat.

Berita Terkait

Prediksi Skor Final Liga Champions Menurut 22 Tokoh Bola
Liverpool Lima Kali Juara Liga Champions, Kelimanya Lawan Tim Putih
Prediksi Tottenham Hotspur vs Liverpool di Final Liga Champions 2019

“Sejak 2012, selain 2017, saya bersama tim saya setiap tahun berada di Liga Champions. Jadi kami kadang-kadang datang dengan keberuntungan, tetapi sebagian besar karena kami layak berada di sana, jadi saya mungkin layak saat ini disebut pemegang rekor, setidaknya memenangkan semi final.”
“Saya manusia normal, jadi jika saya duduk di ruangan dan berpikir ini semua tentang saya, sayalah alasannya, jika saya melihat diri saya sebagai ‘pecundang’ atau apa pun, maka kita semua akan memiliki masalah , tapi saya tidak melihatnya seperti ini.”
“Saya pikir mungkin ada saat-saat yang beruntung dan tidak beruntung dan di beberapa final, itu adalah bagian dari kita dan kita tidak pernah berada di pihak yang beruntung, itu benar, saya tidak dapat mengubah itu.”
Jurgen Klopp tetap bersikukuh bahwa hanya sedikit yang bisa dipelajari Liverpool dari kekalahan 3-1 tahun lalu dari Real Madrid di Kiev karena sifat “aneh” dari gol-gol yang mereka derita, tendangan salto yang memukau oleh Gareth Bale disertai dengan dua kesalahan penjaga gawang dari Loris Karius.
Namun, pemain asal Jerman itu yakin pengalaman itu bertindak sebagai katalis bagi timnya, yang membantu mereka kembali ke final, sembari memberi tekanan pada Manchester City dalam perburuan gelar Liga Premier.
“Kami belajar banyak pada saat itu karena kami bersama melakukannya, dengan banyak pemain bersama saya selama tiga tahun, dengan beberapa pemain selama satu tahun, dan tahun ini kami belajar banyak lagi,” kata Jurgen Klopp.
“Kami adalah tim yang sama sekali berbeda dengan tahun lalu. Jadi final (tahun lalu) tidak terlalu penting bagi peningkatan kami.”
“Final itu seperti titik awal untuk langkah selanjutnya. Begitulah cara kami melihatnya, itulah cara kami ingin menggunakannya dan itulah yang kami lakukan, tetapi dari pertandingan (final tahun lalu) kami tidak bisa belajar banyak kalau mau jujur.” tutup Jurgen Klopp.
Sumber: Jurgen Klopp dan Rekor Sial di Final Liga Champions

Neville: Kehilangan Identitas, Manchester United Tertinggal Jauh dari City

Football5star.com, Indonesia – Legenda Manchester United, Phil Neville, menilai Setan Merah saat ini tertinggal jauh dari Manchester City. Menurut Neville, hal ini terjadi karena kubu Old Trafford kehilangan identitas pemainan.

Sejak ditinggal Sir Alex Ferguson pada 2013, Manchester United tak pernah lagi juara Liga Inggris. Adapun City dalam kurun waktu yang sama sudah tiga kali berjaya di Inggris.

Musim ini, City bahkan meraih treble dengan memenangi Liga Inggris, Piala Liga dan Piala FA. Sementara Manchester United babak belur di semua kompetisi. Paul Pogba dan kawan-kawan bahkan gagal finis empat besar.

Getty Images

“Selama lima tahun terakhir, Anda telah melihat tim yang jauh dari visi dan filosofi tentang sebenarnya dari klub ini. Ketika Anda melihat City, Liverpool dan Tottenham, fondasi klub mereka benar-benar kuat dan Anda akan mengatakan United berasal dari sudut pandang finansial. Tapi bagaimana stabilitas di lapangan?” kata Neville di Soccerway.

“Jika Anda melihat City, Liverpool, Spurs, mereka memiliki sistem dan gaya permainan serta metode yang dicoba dan terpercaya, sedangkan United tampaknya bergerak ke kiri dan kanan dari manajer ke manajer.”

“Saya pikir itu akan memakan waktu yang lama. Ini bukan perbaikan cepat, tetapi mudah-mudahan dengan orang-orang yang bertanggung jawab dan otot keuangan yang masih dimiliki United, mereka dapat segera kembali menantang karena sulit melihat Man City memenangkan segalanya. Ini sulit karena mereka jauh lebih baik daripada United saat ini,” Neville menambahkan.

More News on Liga Inggris

Sadio Mane Ungkap Pernah Tolak Manchester United

Klopp: Liverpool Lebih Baik daripada Dortmund Saat 2012

Mantan Kapten Liverpool Samakan Firmino dengan Ringo Starr

The post Neville: Kehilangan Identitas, Manchester United Tertinggal Jauh dari City appeared first on Football5star Berita Bola.

Menjuarai Liga Champions, Liverpool Menjadi Monster Tak Terhentikan

Menjuarai Liga Champions di bawah manajer Jurgen Klopp akan menyebabkan Liverpool menjadi monster yang “tak terhentikan”, kata Trent Alexander-Arnold.
Liverpool akan menghadapi Tottenham Hotspur di final Liga Champions di Madrid pada hari Minggu untuk mengklaim trofi pertama klub sejak 2012. Skuad besutan Klopp berhasil mengamankan 97 poin di Liga Inggris musim ini, sebuah rekor klub, tetapi gagal menjadi juara karena kalah hanya satu poin dari Manchester City.
Tapi bek Liverpool Alexander-Arnold berpendapat, menjuarai Liga Champions bisa membawa The Reds memasuki satu periode kesuksesan yang berkelanjutan.
“Tim ini cukup baik untuk memenangkan liga, menjuarai Liga Champions,” kata bek muda asal Inggris itu kepada ESPN. “Kami telah menunjukkan itu pada dua musim terakhir khususnya dan kami hanya perlu melewati batas itu sekarang.”

Berita Terkait

Prediksi Skor Final Liga Champions Menurut 22 Tokoh Bola
Liverpool Lima Kali Juara Liga Champions, Kelimanya Lawan Tim Putih
Prediksi Tottenham Hotspur vs Liverpool di Final Liga Champions 2019

“Saya yakin begitu kami mendapatkan salah satu trofi (Liga Inggris atau Liga Champions), kami akan menjadi tak terhentikan dan itulah fokus kami.”
Liverpool berada di final Liga Champions untuk musim kedua berturut-turut, setelah menderita kekalahan 3-1 dari Real Madrid tahun lalu. Alexander-Arnold, 20 tahun, mengatakan Liverpool telah membaik sejak kekalahan di Kiev setahun silam.
“Kali ini kami memahami segalanya tentang pertandingan itu (final Liga Champions lawan Madrid) sehingga kami akan lebih siap dalam hal itu,” tegasnya.
“Kami tim yang lebih lengkap. Selama musim ini, kami telah menunjukkan berbagai cara untuk menang dan melakukannya sendiri. Ketika kami yang pertama mencetak gol, kami sangat sulit untuk dikalahkan. Jika kami butuh mencetak gol di menit-menit terakhir pertandingan, kami dapat melakukannya. Kami tahu apa yang harus dilakukan.”
“Jika kami tidak 100 persen, Spurs bisa menyakiti kami, tetapi kami akan berjuang hingga titik darah penghabisan di lapangan nanti.”
Sumber: Menjuarai Liga Champions, Liverpool Menjadi Monster Tak Terhentikan

Fabregas: Hazard Akan Menangkan Segalanya Bersama Real Madrid

Berita Bola – Mantan bintang Chelsea, Cesc Fabregas, mengatakan bahwa Real Madrid bisa membantu Eden Hazard memenangkan segalanya, di tengah laporan kepindahan pemain internasional Belgia itu ke Santiago Bernabeu.
Hazard telah menjadi salah satu pemain bintang di Liga Premier Inggris sejak pindah ke Stamford Bridge tujuh tahun yang lalu. Tetapi ia telah memberi indikasi kuat pada hari Kamis (30/5) bahwa penampilannya dalam kemenangan 4-1 melawan Arsenal di final Liga Europa akan menjadi hari terakhirnya di Chelsea.
Berbicara mengenai itu, Fabregas yang memenangkan dua gelar Liga Premier Inggris bersama Hazard selama waktunya di Chelsea, merasa bahwa pemain asal Belgia itu dapat terus dan bersaing untuk penghargaan individu serta trofi tim yang belum dapat diraih di London barat.
“Ini adalah situasi yang sulit dan pendapat yang sulit untuk saya katakan,” kata Fabregas kepada Goal.
“Dia (Hazard) berada di Chelsea dan saya tidak ingin orang berpikir saya kritis terhadap klub di sini. Tapi saya pikir sudah saatnya Eden pergi dan mencoba sesuatu yang lain.”
“Saya tahu dia selalu mengatakan dia tidak peduli dengan Ballon d’Or, tetapi jauh di lubuk hati itu adalah sesuatu yang saya pikir setiap pemain rasakan akan menjadi hal yang baik. Saya pikir saya percaya lebih dari dia, dia bisa memenangkan Ballon d’Or, tentu saja. Saya tahu kemampuannya, saya tahu apa yang bisa dia lakukan, saya telah bermain dengan yang terbaik.
“Saya pikir di Chelsea, dia tidak pernah bisa memenangkannya. Bukan karena Chelsea tidak cukup bagus atau semacamnya, tetapi ada tim dan klub yang begitu besar dengan citra mereka di seluruh dunia sehingga membuat perbedaan besar. Saya pikir di Real Madrid Eden akan memenangkan segalanya.
“Dia akan memenangkannya. Dia akan menjadi brilian. Saya tidak ragu untuk itu. Dia berusia 28, ini adalah kesempatan terakhirnya untuk memiliki ini. Sekarang atau tidak pernah. Pilihan lainnya adalah tetap di Chelsea, yang bisa menjadi langkah yang bagus untuk dia tetapi hanya jika dia benar-benar menginginkannya, bahagia dan dia percaya pada masa depan tim,” pungkasnya.

Georginio Wijnaldum Tak Pusingkan Tekanan Final Liga Champions

Gelandang Liverpool Georginio Wijnaldum mengatakan dia tidak terpengaruh oleh tekanan menjelang final Liga Champions melawan Tottenham Hotspur hari Minggu (6/2).
Pertarungan kedua tim pada final Liga Champions di ibukota Spanyol, Madrid, merupakan kesempatan kedua bagi Liverpool mencapai babak final di kompetisi ini. Tahun lalu The Reds dikalahkan oloeh Real Madrid dengan skor 3-1.
Tapi Wijnaldum – yang tampil sebagai starter melawan Los Blancos di Kiev Ukraina tahun lalu – tidak percaya bahwa kekalahan 3-1 di final sebelumnya akan menambah tekanan menjelang pertandingan final kompetisi elit Eropa itu pada akhir pekan ini.
“Secara pribadi, saya tidak merasakan tekanan apa pun,” kata pemain berusia 28 tahun itu. “Bagi saya, ini hanya sebuah kesempatan lain lagi untuk memenangkan gelar. Kami hanya harus memastikan kami benar-benar siap dan berjuang sampai tetes darah terakhir untuk memenangkan pertandingan ini.”

Berita Terkait

Prediksi Skor Final Liga Champions Menurut 22 Tokoh Bola
Liverpool Lima Kali Juara Liga Champions, Kelimanya Lawan Tim Putih
Prediksi Tottenham Hotspur vs Liverpool di Final Liga Champions 2019

“Jika kami memiliki tekanan, kami akan berurusan dengannya pada hari Sabtu nanti. Sampai sekarang, semuanya masih berjalan dengan baik dan semua orang juga rileks, jadi saya tidak punya perasaan bahwa kami memiliki tekanan apa pun.”
Meskipun Liverpool adalah favorit untuk merebut trofi pertama di era Jurgen Klopp pada final Liga Champions hari Minggu, Wijnaldum mengatakan dia juga tidak memikirkan hal tersebut.
Dia menambahkan: “Saya tidak benar-benar berpikir tentang favorit karena dalam permainan, dua tim akan membuat peluang untuk menang. Semua orang menjadikan kami favorit karena kami mengakhiri musim lebih tinggi daripada mereka di liga, tetapi jika Anda melihat pertandingan kedua kami [di ajang liga] melawan mereka, itu cukup sulit.”
“Jika Anda membandingkan tim satu sama lain, kami akan memiliki peluang 50-50. Kedua tim dapat memenangkan pertandingan. Penting bagi kami untuk memulai permainan dengan baik, fokus dan berjuang sampai tetes darah terakhir.”
Sumber: Georginio Wijnaldum Tak Pusingkan Tekanan Final Liga Champions

Menit-menit Berbahaya Final Liga Champions Tottenham vs Liverpool

Inilah menit-menit berbahaya dari final Liga Champions Tottenham vs Liverpool hari Minggu (2/6) besok. Jangan pergi! Tahan kencing saja!
Statistik menunjukkan memang ada yang namanya menit-menit berbahaya dari sebuah pertandingan Liga Champions. Pada menit-menit ini sebaiknya Anda bertahan di depan layar TV, jangan pergi masak kopi, ambil gorengan atau buang air. Tahan saja!
Dari semua periode pertandingan Liga Champions, tahapan paling berbahaya terjadi pada periode menit 76 sampai 90. Sudah ada 65 gol terjadi pada menit-menit berbahaya ini sepanjang sejarah kompetisi elit Eropa itu. Itu jumlah terbanyak dari semua menit pertandingan.
Periode kedua menit-menit berbahaya adalah menit 61 sampai 75. Sepanjang sejarah kebudayaan manusia yang luhur di dunia sepak bola, ada 61 gol terjadi dalam tahap ini. Dua data di atas menunjukkan Anda tak boleh meninggalkan layar TV antara periode menit 61 sampai 90. Jangan!

Berita Terkait

Prediksi Skor Final Liga Champions Menurut 22 Tokoh Bola
Liverpool Lima Kali Juara Liga Champions, Kelimanya Lawan Tim Putih
Gawat! Tottenham Hotspur Makin Pelit Saja Musim Depan

Setelah itu dengan jarak tidak terlalu jauh dan dengan jumlah gol lumayan banyak berturut-turut adalah menit 31 sampai 45 dengan 57 gol, menit 46 sampai 60 dengan 57 gol, serta menit 16 sampai 30 dengan 52 gol.
Mana lebih aman jika harus pergi bikin kopi, di awal pertandingan atau setelah menit 45 babak pertama? Masa extra time akhir paruh pertama jauh lebih aman karena sepanjang sejarah sepak bola Champions League hanya ada lima gol terjadi pada periode ini. Statistik menunjukkan awal pertandingan juga merupakan menit-menit berbahaya karena sudah pernah terjadi 44 gol di periode ini. Ini data selengkapnya gol-gol yang pernah terjadi dalam semua pertandingan Liga Champions:

44 gol menit 1 sampai 15
52 gol menit 16 sampai 30
57 gol menit 31 sampai 45
5 gol menit injury time babak pertama
57 gol menit 46 sampai 60
61 gol menit 61 sampai 75
65 gol menit 78 sampai 90
22 gol injury time babak kedua
0 nol menit 91 sampai 105
1 gol menit 106 sampai 120

Laga final Tottenham Hotspur vs Liverpool diramalkan akan pelit gol pada babak pertama karena begitulah data dari head-to-head selama ini antara kedua kubu dalam 11 pertemuan terkini antara Mauricio Pochettino vs Jurgen Klopp.
Kedua tim sebenarnya memiliki strategi yang sama, bermain menekan jauh di setengah lapangan lawan. Tapi dalam hal nafsu mendominasi bola, Pochettino tampaknya tidak akan melawan kekuatan The Reds dan memilih serangan balik yang sudah terbukti sukses menghasilkan banyak gol.
Namun ini adalah partai final, diperkirakan Klopp akan jauh lebih berhati-hati dalam menginstruksikan anak buahnya untuk bermain menekan karena bisa meninggalkan ruang kosong di belakang yang bisa dieksploitasi oleh lari cepat Son Heung-min, Christian Eriksen atau pun Harry Kane.
Sumber: Menit-menit Berbahaya Final Liga Champions Tottenham vs Liverpool

Dua Taktik Tottenham Hotspur Melukai Liverpool Pada Final Besok

Ada dua taktik yang bisa diterapkan Tottenham Hotspur pada final Liga Champions Minggu (2/6) dinihari yang bisa menyakiti Liverpool.
Ada dua jenis serangan yang bisa diterapkan oleh anak-anak Mauricio Pochettino dalam menghadapi Liverpool di partai puncak Liga Champions besok. Yang pertama mengasumsikan Harry Kane turun bermain. Yang kedua, berbasis pada spesialis tembakan jarak jauh oleh Christian Eriksen, Son Heung-min dan Harry Kane.
Kita bahas yang pertama dulu. Meski menderita cedera panjang dan gagal bermain dalam 10 laga Premier League, sang striker Inggris masih mampu menduduki urutan keenam top skor Liga Inggris bersama Raheem Sterling dengan 17 gol.
Apa yang menarik adalah, jumlah serangan jarak jauh sang striker Tottenham Hotspur itu dari luar kotak penalti turun 50% dibandingkan musim lalu, tapi jumlah potensial golnya hanya turun 23%.

Berita Terkait

Prediksi Skor Final Liga Champions Menurut 22 Tokoh Bola
Liverpool Lima Kali Juara Liga Champions, Kelimanya Lawan Tim Putih
Gawat! Tottenham Hotspur Makin Pelit Saja Musim Depan

Tampaknya pada sesi-sesi latihan, Harry Kane sudah memperoleh petunjuk untuk jangan buru-buru ambil tembakan dari luar kotak dan menunggu sampai peluang yang lebih baik muncul. Jumlah 17 gol meski absen selama 10 pertandingan menunjukkan semuanya.
Kelebihan Harry Kane adalah dia bukan pemalas. Dia sangat sering menjemput bola jauh di dalam pertahanan Tottenham Hotspur dan kemudian mampu menggiring ke tengah sebelum mengirim bola melebar. Ia akan menunggu dengan sabar sebelum berlari masuk untuk menimbulkan ancaman bagi gawang The Reds. Para pemain belakang Liverpool harus mampu membersihkan bola secara meyakinkan untuk mencegah bahaya lanjutan dari Kane.
Faktor serangan kedua adalah tembakan-tembakan jarak jauh. Spurs memiliki sejumlah spesialis penembak jarak jauh. Hal ini terpaksa mereka miliki karena selama semusim terakhir Liverpool mengembangkan pola pertahanan yang mencegah pemain lawan memiliki kesempatan di dalam kotak penalti. Jadi mereka tidak boleh menunggu bola sampai ke dalam kotak, atau kehilangan kesempatan menjebol gawang Alisson Becker.
Tiga spesialis itu adalah Christian Eriksen, Son Heung-min dan Harry Kane. Jumlah gol yang mereka cetak dari luar kotak hanya kalah oleh Manchester City. Jika The Reds menganggap remeh setiap bola dari jarak 30 meter maka bencana pasti akan melanda karena akan ada serangan jarak jauh dari para pemain tersebut.
Memang betul bahwa jumlah tembakan jarak jauh The Lilywhites sudah turun musim ini, tapi keberhasilannya dalam mengubah menjadi gol naik 40%. Itu akan menjadi salah satu andalan Mauricio Pochettino. Ia akan menginstruksikan anak buahnya melepaskan tembakan jarak jauh jika ia menemukan kotak penalti Virgil Van Dijk terlalu tangguh untuk ditembus.
Ada faktor ketiga atau faktor X di sini. Yaitu sang pelatih Tottenham Hotspur itu sendiri. Pochettino dikenal sebagai seorang yang sangat fleksibel. Dalam satu pertandingan ia bisa berganti strategi dua atau tiga kali. Hal ini sebenarnya berawal dari keterpaksaan setelah begitu banyak pemain cedera dan sang pemilik klub, David Levy, sangat pelit dalam mengucurkan duit untuk pemain baru dalam dua jendela transfer terkininya.
Jadi jika babak pertama final Liga Champions usai 0-0, dan kemungkinan besar demikian melihat catatan head-to-head kedua tim di Liga Inggris, maka sangat mungkin The Lilywhites turun dengan strategi berbeda di awal babak kedua. Jika itu terjadi jangan alihkan pandangan Anda dari televisi karena pada menit-menit awal perubahan taktik inilah, gol akan terjadi.
Sumber: Dua Taktik Tottenham Hotspur Melukai Liverpool Pada Final Besok

Sergio Ramos Tegaskan Kesetiaannya pada Real Madrid

Sumberbola – Kapten Real Madrid, Sergio Ramos, menegaskan bahwa dia ingin ‘pensiun’ di Santiago Bernabeu, sekaligus untuk mengakhiri spekulasi yang mengatakan bahwa dia akan pindah ke China.
Pemain internasional Spanyol itu mengakui bahwa dia memang mendapat tawaran dari Tiongkok. Akan tetapi, dia merasa ‘dicintai’ oleh penggemar Los Blancos dan tidak pernah mempertimbangkan untuk pergi.
“Tentu saja, saya tidak ingin meninggalkan Real Madrid. Saya selalu mengatakan bahwa saya ingin pensiun di sini, dan dalam kasus saya, dan presiden (Florentino Perez) dapat mengonfirmasinya, adalah bahwa saya tidak akan meninggalkan Real Madrid ketika saya masih terikat kontrak dengan mereka,” kata Ramos.
Musim 2018/19 merupakan musim yang mengecewakan bagi Real Madrid. Raksasa La Liga itu harus mengganti dua manajer, yakni Julen Lopetegui dan Santiago Solari, serta finis di posisi ketiga La Liga dan tersingkir dari Liga Champions di babak 16 besar.
“Saya tidak akan berbohong,” lanjut Ramos. “Tawaran (dari China) ada di atas meja, dan saya memberi tahu klub tentang tawaran itu, ketika saya merasa ada sesuatu yang salah, dan jika penggemar saya tidak menginginkan saya di sini, jelas, saya akan memikirkannya.
“Bukan itu masalahnya. Saya selalu setia kepada Real Madrid dan saya merasa dicintai di sini,” pungkasnya.

Calderon Khawatir Saga Transfer Robben 12 Tahun Lalu Berulang pada Hazard

Sumberbola – Real Madrid bisa kesulitan menegosiasikan biaya transfer Eden Hazard selama musim panas ini. Itulah peringatan dari mantan presiden Los Blancos, Ramon Calderon, yang terlibat dalam kesepakatan untuk membawa Arjen Robben dari Chelsea ke ibukota Spanyol pada 2007 lalu.
Setelah membantu Chelsea memenangkan Liga Europa pada Kamis (30/5), Hazard mengatakan bahwa laga tersebut kemungkinan menjadi terakhir kalinya dia mengenakan seragam The Blues.
Kapten Belgia itu diyakini akan bergabung dengan Real Madrid, setelah beberapa kali mengutarakan keinginannya untuk bermain di tim raksasa La Liga tersebut. Tapi, Calderon memperingatkan Real Madrid bahwa mereka bisa menghadapi masalah ketika harus menegosiasikan biaya transfer Hazard.
Berbicara kepada Sky Sports, Calderon mengatakan: “Tampaknya Hazard akan datang, dan itu benar-benar kabar baik bagi Real Madrid. Saya pikir sekarang ini adalah masalah uang.”
“Pemain telah mengatakan dengan jelas bahwa dia ingin pergi, dan dia menginginkan tantangan baru. Tidak adil mempertahankan seorang pemain yang telah berada di sana selama tujuh tahun dan yang memiliki satu tahun tersisa dalam kontraknya,” terangnya.
Lebih lanjut, Calderon mengatakan: “Tentu saja, Chelsea bukan negosiator yang mudah. Saya tahu itu dengan cukup baik karena pada 2007, saya melakukan negosiasi panjang dengan Peter Kenyon pada waktu itu dan Roman Abramovich tentang Arjen Robben.”
“Dia tidak bermain untuk Chelsea, tetapi, meskipun demikian mereka mengatakan harganya 35 juta Pounds. Jumlah uang yang banyak pada saat itu. Saya coba menguranginya berkali-kali, dan kami menunggu sampai menit terakhir, tetapi akhirnya kami membayarnya,” pungkasnya.

Jose Mourinho Bicara Pemain Kunci Final Liga Champions

Gilabola.com – Jose Mourinho yakin bahwa Virgil van Dijk dan Christian Eriksen akan menjadi dua pemain kunci di partai final Liga Champions antara Liverpool melawan Tottenham Hotspur.
Kedua klub Liga Premier akan saling beradu di Wanda Metropolitano pada Sabtu malam untuk menentukan siapa yang akan dinobatkan sebagai juara Liga Champions.
Dan mantan bos Manchester United Jose Mourinho diminta menyebutkan nama pemain dari masing-masing tim yang menurutnya akan memainkan peran penentu dalam pertandingan.
“Jika saya harus memilih satu, pada dasarnya dalam fase pertumbuhan terakhir ini, itu akan menjadi Van Dijk,” kata Jose Mourinho kepada Eleven Sports. “Untuk Tottenham Hotspur, karena mereka membuat final tanpa Harry Kane, aku akan mengatakan Christian Eriksen.”

Berita Terkait

Prediksi Skor Final Liga Champions Menurut 22 Tokoh Bola
Liverpool Lima Kali Juara Liga Champions, Kelimanya Lawan Tim Putih
Gawat! Tottenham Hotspur Makin Pelit Saja Musim Depan

Jose Mourinho juga merasa bahwa baik Liverpool atau Tottenham Hotspur tidak boleh dianggap favorit karena kedua belah pihak ini menuju ke partai final dengan banyak kepercayaan diri.
“Saya selalu mengatakan bahwa tim yang memiliki sesuatu yang luar biasa dalam perjalanan ke final adalah tim yang sedikit lebih maju. Yang aneh tentang final Liga Champions ini adalah bahwa keduanya tiba dengan cara yang benar-benar luar biasa.”
“Mereka tiba di sana hampir seperti raksasa, benar-benar yakin bahwa mereka akan menghancurkan saingan mereka, semuanya harus final dengan dua tim sepenuhnya yakin bahwa piala itu akan jadi milikku.” tambah Jose Mourinho.
Perlu diketahui bahwa Liverpool berhasil sampai ke babak final setelah melakukan comeback luar biasa melawan Barcelona setelah kalah 3-0 di Camp Nou, dengan kemenangan 4-0 di Anfield (agregat 4-3). Sementara Tottenham juga melakukan hal yang sama ketika mereka tertinggal agregat 3-0 di leg kedua babak kedua sebelum akhirnya Lucas Moura mencatatkan hattrick untuk membawa timnya melaju ke babak Final Liga Champions.
Sumber: Jose Mourinho Bicara Pemain Kunci Final Liga Champions